Kisah Kopral Mugiyanto: Kehilangan Kaki akibat Ranjau, Sukses Bertani Kelengkeng

Aditya Pratama ยท Kamis, 14 November 2019 - 16:08 WIB
Kisah Kopral Mugiyanto: Kehilangan Kaki akibat Ranjau, Sukses Bertani Kelengkeng

Anggota Koramil 19/Borobudur Kopral Mugiyanto menunjukkan buah kelengkeng di lahan pertaniannya, Rabu (14/11/2019). (Foto-foto: Dispenad).

JAKARTA, iNews.id – Kisah inspiratif datang dari TNI AD. Kopral Mugiyanto, anggota Koramil 19/Borobudur Kodim 0705/Magelang pernah terpuruk karena kehilangan kaki akibat terkena ranjau. Namun dia bangkit dan kini sukses menjadi pengusaha kelengkeng.

Masa-masa sulit Kopral Mugiyanto terjadi kala dia bertugas di Ambon pada 2000 hingga 2001. Tergabung dalam Satgas Yonif 408, Mugiyanto terjun ke wilayah konflik.

“Saat itu pukul 10.00 WIB, saya melaksanakan patroli dengan tim. Tidak jauh, kurang lebih 200 meter dari pos penjagaan. Saat berjalan di sebuah lahan kosong, tiba-tiba ranjau tanam mengenai saya,’’ ujarnya, Rabu (13/11/2019).

Efek ledakan ranjau darat itu sungguh mengerikan. Mugiyanto selama seminggu tidak sadar di rumah sakit. Dia pun dirujuk ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat atau RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.

Setelah bangun dari koma, Mugiyanto sempat tidak percaya dengan apa yang menimpanya. Dia kehilangan kaki karena harus diamputasi.

Saat itulah dia benar-benar merasa hancur. Mugiyanto sangat putus asa hingga pernah terpikir olehnya untuk mengakhiri hidup. Namun, niat itu selalu dibuang jauh-jauh oleh dorongan semangat hidup dari sang kekasih.

“Untunglah ada kekasih saya (saat ini menjadi isteri) yang menjadi penyemangat hidup. Dia menerima apa yang telah terjadi di kehidupan saya saat itu,’’ tuturnya.

Mugiyanto mengungkapkan, sang kekasih tidak hanya menginspirasi, namun benar-benar memotivasi serta membangkitkan kembali semangat hidupnya. Tapi toh Mugiyanto terkadang tak bisa menghindari pikiran mengenai ketidaksempurnaan fisiknya.

Waktu terus berlalu. Setelah bergabung sebagai anggota Koramil 19/Borobudur, Mugiyanto bangkit. Dengan keuletan dan dukungan dari orang-orang sekitarnya, dia menjadi pribadi luar biasa. Mugiyanto kini menjadi petani sukses.

“Memang sebelum musibah itu terjadi, saya suka dengan dunia pertanian. Saat ini dunia pertanian lah yang menjadikan hidup ini merasa kembali setelah keterpurukan yang menimpa saya,’’ ucapnya.

Menyalurkan minatnya tersebut, Mugiyanto menyewa lahan milik desa seluas 1,2 hektare dan menanaminya sekitar 230 pohon kelengkeng Kateki. Menurut dia, kelengkeng ini berkualitas unggul. Dompolan buah bisa mencapai berat antara 3 hingga 4 kilogram.

Selain itu buahnya relatif besar antara 15,9 hingga 20,7gram per buah. Daging buah juga tebal, bertekstur kering dan renyah, serta kandungan airnya yang rendah alias tidak becek.

Hebatnya, hasil pertanian kelengkeng itu tidak dinikmati sendiri, melainkan juga masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah, saat ini bukan hanya kebutuhan yang sudah terpenuhi, bahkan saya juga dapat memberi manfaat kepada warga sekitar Borobudur dalam menembangkan pupuk organik yang saya gunakan," tuturnya.


Editor : Zen Teguh