Kisah Pilu Tuti: Jadi Korban KDRT di Indonesia, Dihukum Mati di Saudi

Okezone, Antara ยท Rabu, 31 Oktober 2018 - 09:54 WIB
Kisah Pilu Tuti: Jadi Korban KDRT di Indonesia, Dihukum Mati di Saudi

Ilustrasi eksekusi mati. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id – Untuk kesekian kalinya, tenaga kerja Indonesia (TKI) kembali menjadi sasaran hukuman mati di negeri orang. Kali ini, buruh migran asal Majalengka, Jawa Barat, Tuti Tursilawati, harus menemui ajalnya usai dieksekusi di Arab Saudi, Senin (29/10/2018) lalu.

Tuti Tursilawati (34) diberangkatkan ke Arab Saudi oleh PT Arunda Bayu pada 5 September 2009 dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk keluarga Suud Malhaq al-Utaibi, di kota Thaif.

Berdasarkan informasi dari keluarga Tuti, terungkap bahwa sang majikan sering hendak berbuat asusila terhadapnya. Sampai pada 11 Mei 2010, perempuan itu memukul al-Utaibi dengan sebatang kayu hingga meninggal dunia. Selanjutnya, Tuti melarikan diri dan ditangkap aparat berwenang setempat, lalu ditahan dipenjara di Kota Thaif. Setelah melalui belasan kali persidangan, hakim menjatuhkan vonis mati terhadap Tuti.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menilai eksekusi mati yang menimpa Tuti Senin lalu merupakan akumulasi dari persoalan kekerasan berbasis gender. Komisioner Komnas Perempuan Taufiq Zulbahri menyebutkan, sebelum berangkat ke Saudi sembilan tahun silam, Tuti adalah korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Majalengka.

Karena itu, dengan niat ingin mengubah hidupnya, Tuti lantas memutuskan menjadi buruh migran di negeri orang. Perempuan itu pun bekerja di Saudi untuk menopang ekonomi keluarganya.

Malangnya, berdasarkan penuturan keluarga Tuti kepada Komnas HAM, setelah bekerja di sana pun dia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari majikannya. “Tuti mengalami pelecehan seksual oleh majikan, dan ekspresi kekerasannya merupakan akumulasi kemarahan maupun pertahanan yang dapat dia lakukan,” kata Taufiq di Jakarta, Rabu (31/10/2018).

Dakwaan eksekusi mati yang telah diterima Tuti sejak 2010 pun tak hanya berdampak pada dirinya tetapi juga keluarganya di Tanah Air.

BACA JUGA: Eksekusi Mati Sepihak TKI Tuti Tursilawati, Arab Saudi Dikecam

Komnas Perempuan yang sejak 2016 memantau dampak hukuman mati pada pekerja migran dan keluarganya, termasuk bertemu dengan keluarga Tuti, menemukan fakta bahwa dampak dakwaan Tuti membuat kondisi keluarganya di Majalengka karut-marut.

Ayah Tuti misalnya, mengidap sakit jantung, berhenti bekerja sebagai juru kunci, selalu merasa bersalah dan saling menyalahkan antarkeluarga mengapa dulu Tuti dibolehkan bermigrasi ke Saudi. Ibu Tuti juga mengalami stigma sosial, isolasi diri, hingga pengajian pun hanya dilakukan di dalam rumah.

“Belum lagi trauma menonton TV, menjadi sasaran eksploitasi oknum yang berjanji akan menyelamatkannya, takut kepada media dikarenakan khawatir sikap atau pernyataan keluarga yang ter-ekspos di media akan menghambat upaya pemaafan,” ujar Taufiq.

Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal mengatakan, hukuman mati yang dijatuhkan kepada Tuti oleh otoritas Arab Saudi tergolong hukuman mati mutlak atau had gillah.

Berdasarkan tingkatannya, had gillah merupakan hukuman mati tertinggi di Arab Saudi setelah qisas dan takzir karena tidak bisa diampuni oleh raja atau ahli waris korban. Tindakan yang termasuk had gillah hanya dapat dimaafkan oleh Allah SWT.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (30/10/2018) kemarin, Iqbal mengungkapkan tindakan Tuti membunuh ayah majikannya, Suud Malhaq al-Utaibi, dilatarbelakangi oleh pelecehan yang kerap diterimanya. Namun, tindakan Tuti ketika itu tidak bisa disebut sebagai pembelaan diri karena dilakukan tidak pada saat pelecehan berlangsung.

“Tuti dianggap melakukan pembunuhan berencana. Karena itu, dia mendapat hukuman had gillah,” ujar Iqbal.

Belajar dari kasus Tuti, Iqbal mengimbau para calon TKI yang akan bekerja di luar negeri supaya ekspresif dan berani membela hak-haknya sejak awal. “Banyak tenaga kerja kita yang berdiam saat dilecehkan. Dendamnya disimpan. Suatu saat ketika sudah tidak tertahankan, kemudian dia melakukan pembunuhan sehingga dianggap pembunuhan berencana,” ucap Iqbal.


Editor : Ahmad Islamy Jamil