Kisah Unik Sardjito Selamatkan Vaksin dari Serangan Sekutu: Disuntikkan ke Kerbau

Abdul Malik Mubarok ยท Senin, 25 Oktober 2021 - 05:30:00 WIB
Kisah Unik Sardjito Selamatkan Vaksin dari Serangan Sekutu: Disuntikkan ke Kerbau
Sardjito dikenal sebagai pahlawan nasional sekaligus Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) pertama (1950-1961). (Foto: Biro Pers Setpres)

JAKARTA, iNews.id - Nama Sardjito dikenal sebagai pahlawan nasional sekaligus Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) pertama (1950-1961). Namanya disematkan pada rumah sakit ternama di Yogyakarta, RSUP Dr Sardjito yang kini menjadi rujukan utama penanganan pasien Covid-19. 

Pendirian rumah sakit ini merupakan ide yang diwujudkan pemerintah di tahun yang sama ketika Sardjito wafat pada 1970. Sosok Sardjito sangat berjasa bagi bangsa Indonesia setelah berhasil menemukan obat untuk sejumlah penyakit yang mewabah di zamannya.

Dalam tulisan Rara Widuri (2015) berjudul "Sebuah Biografi Intelektual 1923-1970", Sardjito lahir di Desa Purwodadi, Magetan, Jawa Timur pada 13 Agustus 1888. Namun sumber lain menyebutkan, putra dari seorang guru bernama Mohammad Sajid tersebut lahir pada tanggal sama 1889.

Sardjito cukup beruntung bisa mengenyam pendidikan formal di sekolah Belanda di Lumajang, Jawa Timur (1901-1907). Selepas itu, dia melanjutkan pendidikan di School tot Opleiding voor Indische Artsen (STOVIA) Jakarta dan berhasil lulus pada 1915.

Lulus dari STOVIA, Sardjito kemudian diangkat menjadi dokter dinas kesehatan kota (Burgerlijke Geneeskundige Dienst) di Batavia. Dia kemudian bekerja di Pasteur Instituut. 

Waktu itu, kantor ini masih berada di Batavia, baru pindah ke Bandung, Jawa Barat pada 1923. Di lembaga ini, Sardjito melakukan riset pertamanya soal influenza selama setahun (1918-1919). Influenza saat itu merupakan salah satu penyakit mematikan dan momok menakutkan bagi masyarakat.

Sardjito menemukan jalan untuk melanjutkan pendidikan kedokteran di Universitas Amsterdam, Belanda. Pada 1920, dia naik kapal menuju Rotterdam. Berkat pengalaman melakukan penelitian saat bekerja di Pasteur Instituut, Sardjito mendapatkan gelar dokter hanya dalam waktu singkat, dari 1921 hingga 1922. Bahkan, Akhir Matua Harahap dalam "Sejarah Yogyakarta (1): Dr Sardjito, Ph.D, Dokter Bergelar Doktor; STOVIA, Boedi Oetomo, Leiden, Pasteur Instituut, UGM", menyebut Sardjito hanya butuh waktu satu semester untuk meraih gelar dokter.

Editor : Rizal Bomantama

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: