Wawancara Khusus Presiden Jokowi (1)

'Kompetisi Sudah Selesai, Saatnya Berangkulan Kembali'

Masirom ยท Selasa, 30 April 2019 - 07:30 WIB
'Kompetisi Sudah Selesai, Saatnya Berangkulan Kembali'

Presiden Jokowi. (Foto: iNews.id/MNC Media)

PEMILU Serentak 2019 telah digelar pada 17 April lalu. Polarisasi yang terjadi di tengah masyarakat saat pesta demokrasi kemarin harus segera diakhiri. Sudah saatnya semua elemen bangsa kembali bersatu untuk menghadapi persaingan global yang sudah ada di depan mata. Seperti apa gambaran pelaksanaan Pemilu 2019 bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi)? Berikut kutipan wawancara khusus MNC Media, termasuk portal berita iNews.id, bersama kepala negara di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (29/4/2019):

Bagaimana pendapat Bapak tentang pelaksanaan pemilu tahun ini, dan sekarang masih proses penghitungan suara oleh KPU?

Kita bersyukur bahwa pemilu kemarin berjalan dengan lancar, baik, aman. Alhamdulillah. Saya kira ini pemilu terbesar yang kalau dibandingkan negara-negara lain. Pemilu gede banget ini.

Apakah memang pelaksanaan pemilu kali ini begitu rumit?

Ya rumit karena menyangkut 813.000 TPS yang tersebar di 17.000 pulau dan di luar negeri. Saya tidak bisa membayangkan pengelolaan logistik oleh KPU. Lalu, persiapan dan pelaksanaan oleh KPU. Sekali lagi, ini pemilu serentak terbesar di dunia. Karena kalau yang lain seperti di India itu kan bukan satu hari. Lalu Amerika Serikat itu per dapil. Sepanjang yang kita tahu, (Pemilu 2019) berjalan dengan sangat lancar. Sukses menurut saya.

Ada banyak catatan dari berbagai kalangan terkait penyelenggaraan pemilu, salah satunya banyaknya petugas KPPS yang meninggal. Ada yang mengusulkan meninjau pemilu serentak. Tanggapan Bapak?

Itu yang kita juga kaget dan turut berdukacita atas meninggalnya lebih dari 250 anggota KPPS yang meninggal dunia. Mereka adalah pejuang demokrasi yang betul-betul bekerja tidak ada henti, sehingga lelah. Dan ini sebuah hal yang patut kita evaluasi. Jadi pemilu serentak kemarin perlu evaluasi, koreksi-koreksi, sehingga pelaksanaan ke depan bisa kita kerjakan lebih baik. Tapi pemilu ini pemilu yang aman, lancar, dan sukses.

Apa harapan Anda terkait adanya polarisasi masyarakat pascapemilu?

Kita ini kan berkompetisi. 01 dan 02 itu berkompetisi. Dan kompetisi itu sudah selesai setelah kehendak rakyat ditentukan tanggal 17 April yang lalu. Sudah, sudah selesai. Seharusnya kita berangkulan kembali, bersatu. Rukun bersatu untuk berkompetisi dengan negara-negara lain.

Kompetisi sebenarnya adalah kita dengan negara-negara lain. Kompetisi dalam hal peningkatan investasi, ekspor-ekspor yang kita produksi, kompetisi sumber daya manusia (SDM) kita dengan mereka. Saya kira itulah kompetisi sebenarnya. Kalau kompetisi (pemilu) sekarang sudah selesai.

Jika dianggap sudah selesai, apakah hasil real count KPU tidak akan jauh berbeda dengan quick count lembaga-lembaga survei Tanah Air?

Semua sudah jelas dan gamblang. Quick count sudah jelas dan gamblang. Itu dari pengalaman pilpres lalu, pilgub, pilihan bupati/wali kota. Yang saya alami juga. Saya sudah mengalami berapa kali, pilihan wali kota dua kali, pilgub satu kali, tapi dua kali karena dua putaran, pilpres dua kali, jadi sudah lima kali.

Yang namanya quick count tidak pernah meleset. 99 persen akurasinya. Tidak pernah keluarlah. Kalau beda-beda, ya 1 persen, kalau itu ada margin of error. Artinya kembali lagi, ini sudah gamblang. Kalau kita senang pada ilmu pengetahuan, statistik bukan survei, quick count itu bukan survei lho. Metode penghitungan yang akurasinya betul-betul akurat. Jadi sebetulnya apa lagi? Bahwa formalnya kita sabar menunggu real count KPU, ya. Sekarang kita berangkulan bersatu, rukun. Karena aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, kerukunan, persaudaraan.



Ada upaya rekonsiliasi dengan pasangan 02?

Saya tidak ngerti sebenarnya yang mau direkonsiliasi itu apa? Kita ini juga tidak kayak musuhan. Ndak. Ini kan kompetisi. Kemudian kompetisi sudah selesai. Di bawah pun sudah kembali pada kehidupan sehari-hari. Yang bekerja kembali kerja, yang ke sawah ke sawah, yang melaut juga melaut. Sudah seperti itu. Berilah pendidikan politik yang baik pada rakyat.

Ada rencana bertemu Pak Prabowo Subianto?

Ya kan kita sudah berusaha mengutus. Tapi belum ketemu. Tidak tahu belum ketemu waktunya atau belum pas waktunya. Tapi sekali lagi saya sampaikan bahwa persahabatan, persaudaraan, silaturahmi jangan sampai putuslah. Saya dengan Pak Prabowo, saya dengan Pak Sandiaga Uno.

Ada rencana untuk membuka koalisi dengan kubu 02?

Masih terlalu dinilah, kita ngomong masuk ke pemerintah. Tapi kalau ketemu dalam komunikasi politik, ya kenapa tidak? Ketemu Pak Zul (Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan), ya ndak papa, komunikasi. (*)

Editor : Ahmad Islamy Jamil