Kronologi Pelayan Warung Makan di Makassar Diperkosa Bos dan Direkam Sang Istri, Dituduh Selingkuh
MAKASSAR, iNews.id –Niat AW (22), seorang gadis yang merantau demi sesuap nasi sebagai pelayan warung makan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan berujung nestapa.
Bukannya perlindungan yang didapat dari sang majikan, ia justru menjadi korban kebiadaban pasangan suami istri yang tega menghancurkan masa depannya dengan cara yang sangat tidak manusiawi.
AW menjadi korban budak seks majikan prianya. Ironisnya, aksi keji itu istri direkam istri pelaku dengan dalih bukti perselingkuhan.
Didampingi tim UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Makassar, korban kemudian melaporkan kejadian itu ke Unit PPA Satreskrim pada Sabtu (3/1/2026).
Mimpi buruk AW dimulai dari sebuah tuduhan tak berdasar. Sang istri majikan, yang tersulut api cemburu, menuduh korban menjalin hubungan gelap dengan suaminya. Meski AW telah bersimpuh membantah tuduhan tersebut, amarah sang istri justru kian tak terkendali.
Korban mengalami kekerasan fisik yang brutal; rambutnya dijambak, wajahnya ditampar berkali-kali. Di tengah kondisi korban yang tak berdaya dan ketakutan itulah, skenario keji dimulai.
Berdasarkan keterangan Alita Karen selaku pendamping dari UPTD PPA, korban AW dipaksa melayani nafsu bejat sang bos pria. Ironisnya, sang istri tidak hanya menyaksikan, tetapi secara sadar merekam proses persetubuhan tersebut sebanyak dua kali sebagai alat ancaman.
"Istri pelaku menyuruh persetubuhan itu dilakukan dan kemudian merekamnya. Alasannya diduga karena tuduhan perselingkuhan, namun tindakan memaksa dan merekam itu sama sekali tidak bisa dibenarkan secara hukum," ungkap Alita Karen.
Sebelum melapor ke polisi, keluarga korban sempat kehilangan kontak setelah AW mengirimkan pesan singkat pada dini hari yang menyatakan dirinya dalam bahaya. Korban diduga disekap di rumah terlapor sebelum akhirnya dipulangkan.
Modus perekaman tersebut diduga kuat akan digunakan pelaku sebagai alat intimidasi. "Menurut korban, rekaman itu bisa dipakai ancaman agar dia tetap bekerja di sana selama belasan tahun tanpa dibayar," kata Alita.