Sebagian dari kelompok imigran ini menyeberang ke semenanjung Malaysia dan melanjutkan perjalanan dengan menyeberang ke bagian utara Pulau Kalimantan. Kemudian, seorang tokoh Dayak Kayan juga menjelaskan bahwa suku dayak adalah ras Indo China yang bermigrasi ke Indonesia pada abad ke -11.
Ciri-ciri Suku Dayak
Ciri khas Suku Dayak dapat terlihat melalui warisan budaya yang masih dijaga hingga saat ini, mencakup rumah adat, pakaian tradisional, senjata, bahasa, kepercayaan, dan tradisi.
Rumah adat khas Suku Dayak memiliki bentuk panggung dan terbuat dari kayu, yang dikenal sebagai Rumah Betang. Rumah Betang dihuni oleh beberapa keluarga sebagai simbol kebersamaan yang dihargai oleh Suku Dayak.
Pakaian adat Suku Dayak untuk pria dikenal sebagai King Baba, sedangkan untuk wanita disebut King Bibinge. Pakaian adat ini memiliki ciri khas berupa sulaman dengan motif khas Dayak, serta hiasan kepala seperti tajuk bulu tantawan dan tajuk bulu arue yang terbuat dari bulu burung enggang. Selain itu, senjata khas yang sering digunakan dalam tradisi Suku Dayak adalah mandau.
Tradisi Terkenal Suku Dayak
1. Kuping Panjang
Suku Dayak juga terkenal dengan berbagai tradisinya, beberapa di antaranya sangat khas dan terkenal karena keunikan mereka. Salah satu tradisi yang unik adalah kebiasaan memanjangkan daun telinga.
Proses memanjangkan telinga ini dilakukan dengan menggunakan logam atau pemberat, serupa dengan anting-anting. Menurut ketentuan adat, perempuan dari Suku Dayak dapat memanjangkan telinga hingga mencapai dada, sementara laki-laki dapat memanjangkannya hingga bagian bawah dagu. Tradisi ini, selain menjadi simbol kecantikan, juga memiliki makna sebagai penanda status kebangsawanan dan sebagai latihan untuk mengembangkan kesabaran.
2. Tato Tradisional
Suku Dayak juga terkenal dengan Tradisi tato tradisionalnya. Masyarakat suku Dayak Iban di Kecamatan Embaloh, Kabupaten Kapuas Hulu, dikenal dengan praktik tato sebagai seni ukir atau rajah pada tubuh mereka.
Menurut informasi dari laman Kemendikbud, masyarakat suku Dayak Iban diyakini telah mengenal tato sejak periode tahun 1500 SM hingga 500 SM. Dalam konteks tradisional, saat berlangsungnya pertempuran, tato ini digunakan oleh suku Dayak Iban untuk mengidentifikasi kawan dan lawan.
3. Tiwah
Tradisi penguburan suku Dayak melibatkan beberapa aspek budaya yang unik. Seringkali, suku Dayak menerapkan tradisi pemakaman dengan cara memakamkan orang yang meninggal dalam kuburan tanah atau dalam peti mati yang diletakkan di atas tanah. Pemakaman tersebut seringkali melibatkan ritual dan upacara khusus yang melibatkan keluarga dan masyarakat setempat.
Beberapa kelompok suku Dayak, seperti Dayak Ngaju, mungkin juga melaksanakan tradisi Tiwah, yang melibatkan pembakaran tulang belulang kerabat yang telah meninggal. Dalam tradisi ini, keluarga yang ditinggalkan akan menari, bernyanyi, dan mengelilingi jenazah sebagai bagian dari prosesi penguburan.
Penting untuk diingat bahwa praktik penguburan suku Dayak dapat bervariasi antara kelompok suku dan wilayah tertentu di Kalimantan, sehingga tidak ada satu cara penguburan yang merangkum semua praktik suku Dayak.
Editor: Simon Iqbal Fahlevi