Mengenal Grace Kurniadi, Psikolog Tuli Pertama di Indonesia

Rizqa Leony Putri · Minggu, 14 Februari 2021 - 09:00:00 WIB
Mengenal Grace Kurniadi, Psikolog Tuli Pertama di Indonesia
Grace Kurniadi lulusan Pendidikan Profesi Psikolog Universitas Tarumanagara. (Foto: Dok Untar)

JAKARTA, iNews.id - Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara meluluskan Grace Kurniadi sebagai psikolog tuli pertama di Indonesia. Bermula dari usulan orang tua dan masukan dari teman-temannya, Grace memilih profesi psikolog. 

“Saya memilih pendidikan sebagai psikolog berawal dari usulan orang tua. Mereka melihat saya sering menjadi tempat bercerita bagi teman-teman di masa SMP dan SMA. Saya juga senang untuk mengamati hubungan antarmanusia,” katanya.

Jurusan pilihan Grace adalah Pendidikan Profesi Psikolog yang merupakan salah satu jurusan unggulan di Universitas Tarumanagara.

“Jurusan tersebut hanya tersedia di Universitas Tarumanagara dan berada di area yang paling dekat dengan Jakarta. Selain itu, karena akses transportasi lebih mudah, dan juga ada satu mata kuliah yang jarang ada di kampus lain seperti art therapy, yang menurut saya menjadi nilai tambah dari Pendidikan Profesi Psikolog di Universitas Tarumanagara,” ujar Grace.

Sebagai seorang tuli, tentu perkuliahan dilalui dengan penuh perjuangan yang tidaklah mudah. Namun, berbagai kendala yang ada dilewati tanpa mengeluh. 

“Kendala yang saya alami dengan adanya ketulian dalam proses belajar, yaitu sulitnya menangkap gerakan bibir jika orang yang berbicara membelakangi saya, senang berjalan-jalan, berbicara terlalu cepat atau berkumur-kumur gerakan bibirnya, ataupun artikulasinya tidak jelas. Hal lainnya, saya kurang bisa menanggapi dengan cepat jika masuk ke dalam kelompok lebih dari empat orang,” katanya.

Namun demikian, Grace selalu berusaha mengatasinya melalui komunikasi yang baik dengan dosen, khususnya terkait perkuliahan yang dia ambil seperti berkomunikasi untuk menjelaskan kondisinya, serta meminta dosen tersebut untuk berbicara lebih perlahan agar mudah dipahami. Grace bahkan merekam proses perkuliahan agar bisa diputar ulang kembali di rumah untuk memastikan tidak ada pelajaran yang terlewat.

Menurutnya, dalam menghadapi tantangan yang ada selama berkuliah, diperlukan perubahan cara berpikir, memiliki sikap terbuka dan kemauan untuk menerima keadaan. Selain itu, peran dan dukungan keluarga serta teman-teman sangat membantunya selama ini.

Tak hanya itu, lanjut Grace, profesionalitas dosen pun turut mendukung dalam penyelesaian studinya.

“Untuk bisa melewati kesulitan-kesulitan tersebut, saya perlu mengubah pola pikir di dalam diri menjadi lebih positif, keterbukaan diri untuk meminta bantuan dan kemauan untuk menerima apapun keadaan diri sendiri. Berkat bantuan teman-teman selama proses perkuliahan tersebut yang mendukung dan mau membantu saya juga menjadi penyemangat untuk terus berjalan menyelesaikan yang sudah dimulai,” kata Grace.

“Para dosen pun juga tidak keberatan untuk menjelaskan kembali di luar jam kelas. Orang tua pun juga terus mendorong untuk tetap maju, meski jika saya perlu mengulangi lagi. Tidak dari orang tua saja, saya juga mendapatkan dorongan dari hal yang saya amati pada lingkungan teman, dosen, dan juga buku yang saya baca,” ujarnya.

Grace yang mengambil pendidikan Profesi Psikolog di Universitas Tarumanagara ini memiliki mimpi ingin bisa menjadi berkat bagi sesama. Bahkan, dirinya juga berkeinginan untuk dapat menulis buku.

Grace berharap, setelah lulus dia bisa berbagi dan mengaplikasikan ilmu yang sudah dia dapatkan, kepada orang yang membutuhkan. Dirinya juga ingin mempelajari bahasa isyarat, agar teman-teman tuli dapat mengakses layanan konseling dan dapat lebih nyaman berinteraksi, tanpa perlu menggunakan bantuan interpreter yang mungkin dapat memunculkan ketidaknyamanan pada calon klien tersebut.

Tak lupa, Grace berharap akan adanya kesempatan pendidikan inklusif di perguruan tinggi seperti Universitas Tarumanagara yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun, khususnya bagi orang dengan kebutuhan khusus.

“Sebagai lulusan profesi psikolog dengan keterbatasan fisik yang diwisuda, harapanku terhadap Universitas Tarumanagara sebagai lembaga pendidikan tinggi adalah terus memberikan kesempatan bagi mahasiswa-mahasiswinya untuk meneruskan pendidikannya di Universitas Tarumanagara, tanpa mendiskriminasikan mahasiswa tersebut. Saya juga mengapresiasi Universitas Tarumanagara yang memiliki desain yang cukup ramah untuk pengguna kursi roda. Semoga di saat pandemi usai, Universitas Tarumanagara dapat mengembangkan desain gedung yang ramah bagi keterbatasan fisik dalam penglihatan,” kata Grace.  (CM)

Editor : Rizqa Leony Putri