Mengimajinasikan Indonesia
Indonesia butuh banyak orang muda berkualitas untuk masuk ke politik. Kita rindu Indonesia diisi oleh pemuda berintegritas seperti Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir, Natsir muda, para pendiri bangsa yang masa mudanya dihabiskan untuk mendiskusikan bentuk Indonesia impian yang ingin diciptakan.
Muda bukan hanya tentang usia, tapi juga keberpihakan pada kebaruan dan kemajuan. Muda adalah tentang keberanian mendobrak cara-cara berdemokrasi berbiaya tinggi yang jadi hulunya praktik korupsi. Jadi percuma usia muda, jika cara politiknya dengan gaya-gaya lama orang tua, transaksional, miskin inovasi dan minim substansi.
Kita rindu para pemimpin muda yang idealisme dan keputusan politiknya murni tanpa didasari kepentingan politik dinasti dan oligarki.
Kita bersiap menyambut bonus demografi 2030 dan Indonesia Emas, tapi sudahkah orang muda diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengimajinasikan narasi tentang Indonesia masa depan?
Hari ini, orang muda di partai politik hanya jadi asesoris, pemanis kampanye untuk menjadi vote getter. Sebatas perwajahan agar partai dianggap muda. Orang muda tak boleh lagi dibatasi hanya urusan mengelola media sosial, mendesain poster, atau menjadi event organizer (EO) di partai. Sayang sekali jika substansi kebijakan politik partai hingga struktur ekonomi politik masih diatur oleh dewan pembina yang notabene masih "pemain lama".