Menkes Minta Semua Rumah Sakit Bisa Tangani Gangguan Jiwa, Tak Hanya RSJ
Catatan redaksi: Berita ini memuat informasi mengenai bunuh diri dan disajikan untuk kepentingan publik, khususnya untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan dan kesehatan mental. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami tekanan berat, memiliki pikiran untuk menyakiti diri atau bunuh diri, segera cari bantuan dari orang yang dipercaya atau tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.
JAKARTA, iNews.id - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta seluruh rumah sakit di Indonesia mampu menangani pasien dengan gangguan kesehatan mental. Apa alasannya?
Menurut Menkes Budi, pelayanan kesehatan jiwa tidak bisa hanya mengandalkan rumah sakit jiwa (RSJ) karena kebutuhan masyarakat membutuhkan jangkauan layanan yang lebih luas.
Budi mengatakan, pemerintah tengah menyiapkan sistem penanganan kesehatan mental secara berjenjang, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit. Langkah ini diperlukan agar masyarakat yang mengalami gangguan mental bisa mendapatkan penanganan sesuai kondisi dan tingkat keparahannya.
"Mulai dari seluruh puskesmas, kemudian naik ke rumah sakit, terus ke atas. Kalau dulu hanya punya rumah sakit jiwa khusus, nanti kami akan bilang semua rumah sakit harus bisa menangani kesehatan mental. Karena kalau hanya rumah sakit jiwa enggak akan cukup," kata Budi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (26/10/2026).
Rencana tersebut sejalan dengan hasil skrining kesehatan jiwa yang dilakukan pemerintah atas instruksi Presiden Prabowo Subianto. Pada 2025, sekitar 70 juta penduduk telah menjalani skrining menggunakan kuesioner untuk memetakan kondisi kesehatan mental masyarakat.
Dari pemeriksaan tersebut, sekitar 7 juta orang terindikasi mengalami gangguan mental. Budi menjelaskan, gangguan kesehatan jiwa memiliki beragam jenis, mulai dari gangguan kecemasan atau anxiety disorder, depresi, hingga skizofrenia.
"Penyakit mental tuh ada jenis-jenisnya. Mulai yang paling rendah namanya anxiety disorder, cemas, itu termasuk masalah kesehatan mental. Naik sedikit namanya depression disorder, depresi. Ada yang namanya skizofrenia, ini yang benar-benar seperti sakit jiwa," ujarnya.
Skrining itu juga mengidentifikasi individu yang memiliki kecenderungan bunuh diri. Budi menilai, temuan tersebut harus diikuti kesiapan fasilitas kesehatan karena setiap kondisi membutuhkan pendekatan dan perawatan yang berbeda.
"Tantangannya di kami, karena sudah ketemu kan, oh masalahnya sudah ketemu nih, yang mau bunuh diri berapa, ini berapa, sudah ketemu. Kita harus mempersiapkan infrastrukturnya karena perawatannya beda kan," tuturnya.
Karena itu, pemerintah perlu memperkuat kemampuan fasilitas kesehatan dalam memberikan layanan kesehatan mental. Puskesmas diharapkan dapat menjadi bagian dari layanan awal, sedangkan rumah sakit menangani pasien yang membutuhkan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut sesuai kebutuhan medis.
Dengan sistem berjenjang tersebut, penanganan kesehatan mental diharapkan tidak terpusat pada RSJ khusus. Seluruh fasilitas kesehatan yang terlibat perlu memiliki kemampuan dan dukungan yang sesuai agar pasien dapat memperoleh layanan secara tepat.
Editor: Muhammad Sukardi