Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Meutya Hafid Hormati Keputusan Raline Shah Mundur dari Stafsus Komdigi
Advertisement . Scroll to see content

Meutya Hafid Minta Perusahaan Media Wajibkan Debriefing bagi Jurnalis usai Liputan Berat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:10:00 WIB
Meutya Hafid Minta Perusahaan Media Wajibkan Debriefing bagi Jurnalis usai Liputan Berat
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid. (Foto: Dok. Komdigi)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid meminta perusahaan media memberikan waktu pemulihan mental bagi jurnalis setelah menjalani penugasan berat, terutama liputan di daerah konflik atau investigasi. 

Salah satu langkah yang dinilai penting adalah 'debriefing' sebelum wartawan kembali diterjunkan untuk meliput peristiwa yang berisiko tinggi. Kenapa demikian?

Menurut Meutya, jurnalis termasuk profesi yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental karena setiap hari berhadapan dengan beragam informasi, tekanan pekerjaan, hingga peristiwa yang dapat memengaruhi kondisi psikologis.

Pengalaman Meutya sebagai mantan jurnalis membuatnya memahami tekanan tersebut. Dia menilai, perhatian terhadap kesehatan mental wartawan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan individu untuk menghadapi beban pekerjaan.

"Wartawan itu memang potensi yang rentan terhadap gangguan mental disorder karena tiap hari harus menyerap berbagai informasi. Dan saya dulu mengalami bahwa memang tidak mudah dan debriefing menjadi perlu," ujar Meutya Hafid di kantor Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Kuningan, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Dia menegaskan, perusahaan media perlu mengambil tanggung jawab dalam menjaga kondisi psikologis jurnalis, khususnya setelah mereka menyelesaikan penugasan yang berpotensi menimbulkan tekanan mental.

"Seperti waktu dalam kondisi misalnya habis meliput daerah konflik, maka perusahaan medianya wajib untuk memberikan waktu teman-teman wartawan untuk di-debrief. Jadi ketika dikembalikan dulu, baru kemudian meliput hal-hal berat lainnya," tuturnya.

Debriefing merupakan proses evaluasi dan pembahasan setelah seseorang menjalani suatu pengalaman atau penugasan. Dalam konteks jurnalistik, proses ini dapat menjadi kesempatan bagi wartawan untuk membicarakan pengalaman selama liputan, mengidentifikasi tekanan yang dialami, serta mendapatkan dukungan sebelum kembali bertugas.

Meutya juga mengingatkan bahwa wartawan tidak seharusnya merasa malu untuk mengakui ketika mengalami tekanan psikologis. Menurut dia, kemampuan mengenali batas diri justru menjadi bagian penting dari profesionalisme seorang jurnalis.

"Teman-teman wartawannya juga memang harus mau mengaku. Kalau dulu, kita merasa ketika kita merasa terganggu, itu seolah kita wartawan yang lembek, jadi bukan wartawan yang kuat. Nah, wartawan yang andal itu tahu kapan berhenti. Wartawan yang cakap tahu limitasinya," jelasnya.

Dia menilai, anggapan bahwa wartawan harus selalu kuat menghadapi berbagai situasi berisiko dapat membuat persoalan kesehatan mental sulit diakui. Padahal, memahami kondisi diri dan mengetahui kapan membutuhkan jeda merupakan hal penting untuk menjaga keberlangsungan kerja jurnalistik.

Selain dukungan dari perusahaan media, Meutya mendorong jurnalis menyempatkan diri berolahraga di tengah kesibukan. Aktivitas fisik dinilai dapat menjadi salah satu upaya menjaga keseimbangan kondisi fisik dan pikiran di tengah padatnya pekerjaan.

"Kuncinya adalah jeda dari satu peliputan berat ke peliputan berat lainnya. Sempatkan apa pun itu olahraga demi menghargai kesehatan mental kita," pungkas Menkomdigi.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut