Muktamar IMM XVIII, Haedar Nashir Ingatkan Kader Jaga Persaudaraan
MALANG, iNews.id – Muktamar XVIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dengan tema “Meneguhkan Pancasila sebagai Sukma Bangsa untuk Indonesia Sejahtera” hari ini resmi dibuka oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr Haedar Nashir. Pembukaan berlangsung di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur.
Seluruh elemen Muhammadiyah, mulai dari organisasi otonom sampai sekolah-sekolah turut memeriahkan acara tersebut. Adapun organisasi kepemudaan lain juga turut menghadiri perhelatan musyawarah tertinggi IMM tersebut.
Dalam sambutannya, Haedar mengajak seluruh peserta Muktamar XVIII IMM untuk menjadikan ajang pertemuan kali ini sebagai momentum bermusyawarah dengan hati yang tulus, pikiran yang jernih, dan cerdas. Tidak hanya itu, Haedar juga berpesan kepada muktamirin untuk selalu menjaga persaudaraan serta terus memupuk ukhuwah dan kebersamaan yang tinggi.
“Saya berharap para muktamirin yang masih muda ini dapat bermuktamar dengan spirit Muhammadiyah yang sebelumnya disebutkan bahwa IMM ini lahir pada masa pergolakan ideologi,” ujar Haedar saat menyampaikan pidatonya di Hall Dome UMM, Rabu (1/8/2018).

Tak ketinggalan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Muhadjir Effendy juga menyampaikan sambutan dalam acara tersebut. Muhadjir menilai tema Muktamar IMM kali ini sangat puitis dan menjadi pilihan yang cerdas. Di hadapan seluruh kader IMM, Muhadjir menyatakan rasa percaya dirinya bahwa organisasi mahasiswa itu dapat menjawab tantangan zaman.
“Saya yakin IMM punya sejarah panjang sejak 1964. IMM sebenarnya hadir untuk menjawab tantangan pada saat itu yaitu ketegangan ideologi. Oleh karena itu, IMM harus dapat mengawal dan menjaga ideologi Pancasila di bawah tampuk pimpinan Muhammadiyah untuk keberlangsungan bangsa Indonesia,” ungkap Muhadjir.
Rektor UMM Dr Fauzan mengatakan, dengan adanya muktamar ini, UMM harus memahami bahwa IMM juga menjadi etalase yang memiliki kewajiban untuk menjaga nilai-nilai moral dan ideologi bangsa Indonesia. “IMM bukan hanya sebagai cerminan kader, tetapi sebagai cerminan Muhammadiyah juga,” ucap Fauzan.
Acara pembukaan muktamar diawali dengan penampilan tarian khas daerah Jawa Timur, yaitu Tari Bapang dan Tari Beskalan. Tak kalah menarik, pembaca Alquran dalam acara pembukaan tersebut adalah penyintas tunanetra. Sang qari bernama Ferdi Tri Khoirun Nidhom yang merupakan salah satu kader IMM Komisariat FIP Universitas Negeri Malang.
Untuk memeriahkan gelaran Muktamar XVIII IMM, panitia juga mengadakan Parade Budaya yang menampilkan beragam jenis kesenian dan kebudayaan. Selain itu, Muktamar XVIII IMM juga mengadakan bazar (pasar murah) yang dapat dinikmati oleh seluruh peserta muktamar mulai Kamis (2/8/2018) hingga Sabtu (3/8/2018).
Editor: Ahmad Islamy Jamil