Nikita Mirzani Tulis Surat dari Rutan Pondok Bambu, Singgung Ketidakadilan Hukum
Nikita juga menyebut dirinya telah menjalani satu tahun masa penahanan untuk kesalahan yang menurutnya tidak pernah dilakukan. Dia mengaku kondisi tersebut berdampak besar secara emosional, terutama karena harus berpisah dengan ketiga anaknya.
"Yang menghancurkan jiwa saya adalah bayangan tiga wajah mungil di rumah—anak-anak saya," tulisnya.
Dalam surat itu, dia mempertanyakan makna keadilan dan menyinggung dampak hukum terhadap keluarganya, khususnya anak-anak yang dinilai ikut menjadi korban.
Berikut ini isi lengkap surat Nikita Mirzani yang ditulis tangan di atas secarik kertas:
Surat Terbuka: Ratapan Keadilan di Balik Jeruji
Kepada yang Terhormat, mereka yang memegang palu keadilan,
Hari ini pena saya gemetar bukan karena takut, melainkan karena lelah menanggung beban ketidakadilan yang kian menyesakkan dada. Di negeri ini, yang katanya menjunjung tinggi hukum, saya justru merasa seperti buruan yang dipaksa menjadi penjahat dalam sebuah skenario yang terus berubah-ubah.