Orang Utan yang Sempat Viral Mati usai Ditemukan Kritis di Parit, Diduga Terpapar Asap Karhutla
JAKARTA, iNews.id - Orang Utan jantan dewasa bernama Sempurna mati setelah viral ditemukan dalam kondisi sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Hasil nekropsi menunjukkan adanya perubahan patologis pada sejumlah organ, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal. Kondisi pada paru-paru diduga berkaitan dengan paparan asap yang berpotensi mengganggu fungsi paru-paru hingga menyebabkan kekurangan oksigen akut.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat mengonfirmasi Sempurna mati pada Minggu (30/8/2026). Sebelumnya, satwa tersebut ditemukan warga dalam kondisi tidak mampu berdiri dan kesulitan bernapas.
Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane menyampaikan duka cita atas kematian Sempurna. Dia juga mengapresiasi masyarakat yang melaporkan keberadaan orangutan tersebut sehingga upaya penyelamatan dapat segera dilakukan.
“Kami sangat menyayangkan Sempurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa. Pemeriksaan lebih lanjut juga dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan serta faktor yang diduga berkontribusi terhadap kematiannya,” ujar Murlan dalam keterangannya, Jumat (4/9/2026).
Sempurna pertama kali dilaporkan warga sekitar pukul 07.00 WIB. Menindaklanjuti laporan tersebut, BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) langsung melakukan upaya penyelamatan.
Tim menemukan Sempurna berada di dalam parit kering di area perkebunan kelapa sawit milik warga. Saat ditemukan, orangutan tersebut tidak mampu berdiri, hanya dapat bergerak secara terbatas, dan mengalami kesulitan bernapas.
Tim kemudian memberikan pertolongan pertama berupa terapi oksigen dan cairan intravena. Sempurna selanjutnya dibawa ke pusat rehabilitasi YIARI sekitar pukul 11.30 WIB untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Namun, kondisi Sempurna terus menurun. Sekitar pukul 14.00 WIB, pernapasannya semakin dangkal dan saturasi oksigen tidak terdeteksi.
Setelah menunjukkan tanda-tanda henti napas, tim melakukan resusitasi jantung dan paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR). Sempurna akhirnya dinyatakan mati pada pukul 15.20 WIB.
Untuk mengetahui kondisi kesehatan dan dugaan penyebab kematian, nekropsi dilakukan pada 1 September 2026. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya perubahan patologis pada beberapa organ, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal.
Pada paru-paru ditemukan kongesti dan atelektasis parsial, terutama pada bagian kaudoventral kedua lobus paru-paru. Berdasarkan riwayat kondisi klinis dan hasil pemeriksaan tersebut, perubahan patologis pada paru-paru diduga berkaitan dengan paparan asap.
Paparan asap tersebut berpotensi mengganggu fungsi paru-paru dan menyebabkan hipoksia akut atau kondisi kekurangan oksigen dalam tubuh. Kondisi itu selanjutnya diduga berkontribusi terhadap gangguan fungsi kardiovaskular hingga menyebabkan kematian Sempurna.
Pemeriksaan dan penelusuran dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi kesehatan serta faktor yang berkontribusi terhadap kematian satwa tersebut.
Murlan menegaskan, laporan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya penyelamatan satwa liar, khususnya ketika satwa ditemukan sakit, terluka, atau terdampak kebakaran hutan dan lahan.
“Peran masyarakat sangat penting. Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang membutuhkan pertolongan agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas,” katanya.
Editor: Aditya Pratama