Pengguna KRL Jabodetabek Tembus 349 Juta Orang pada 2025, Naik 6,45 Persen
JAKARTA, iNews.id - Jumlah pengguna Commuter Line atau KRL Jabodetabek menembus 349,31 juta orang sepanjang 2025. Angka ini meningkat 6,45 persen dibandingkan 2024 yang mencatat 328,153 juta pengguna.
VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda mengatakan, peningkatan tersebut menunjukkan peran KRL sebagai transportasi andalan masyarakat perkotaan untuk bepergian menuju tempat kerja, sekolah, hingga pusat layanan publik.
“Dengan skema tarif yang terjangkau melalui Public Service Obligation (PSO) dari Pemerintah, masyarakat dapat memangkas pengeluaran transportasi bulanan secara efisien dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi,” kata Karina dalam keterangannya, Minggu (25/10/2026).
Tren kenaikan pengguna KRL Jabodetabek terlihat dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, jumlah pengguna tercatat lebih dari 290,89 juta orang. Setahun kemudian, angka itu meningkat 12,81 persen menjadi 328,153 juta orang, sebelum kembali naik menjadi 349,31 juta orang pada 2025.
Selain tarif yang terjangkau, keteraturan jadwal perjalanan turut menjadi faktor pendukung penggunaan KRL. KAI Commuter mengoperasikan perjalanan kereta berdasarkan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) dengan frekuensi yang teratur sehingga pengguna dapat merencanakan aktivitas harian.
“Hal ini membantu pengguna Commuter Line dari kalangan pekerja, pelajar, dan pengguna harian dalam merencanakan jadwal aktivitas secara lebih terukur dan efisien,” kata Karina.
KRL juga menjadi alternatif bagi masyarakat untuk menghindari kemacetan di jalan raya, terutama pada jam sibuk. Dengan jalur khusus, perjalanan kereta tidak terhambat kepadatan kendaraan seperti yang kerap terjadi di jalan raya.
Karina mengatakan, kemacetan dapat memicu pemborosan energi, menurunkan produktivitas, serta meningkatkan pengeluaran masyarakat.
"Masalah kemacetan sendiri, dari berbagai penelitian disebutkan bahwa masalah tersebut berdampak pada pemborosan energi, penurunan produktivitas, hingga berdampak pada pengeluaran penduduk lebih besar," ucap Karina.
"Keberadaan Commuter Line menjadi bagian yang menjawab masalah tersebut," katanya lagi.
Penggunaan KRL juga dinilai berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon di kawasan metropolitan. Berdasarkan perhitungan emisi yang disampaikan KAI Commuter, kereta listrik atau Electric Multiple Unit (EMU) menghasilkan emisi per penumpang yang lebih rendah dibandingkan kendaraan pribadi.
“Menggunakan Commuter Line, per orang hanya menghasilkan emisi sebesar ±19 hingga 41 gram CO₂/km. Angka tersebut jauh di bawah angka penggunaan mobil pribadi yang menghasilkan emisi sebesar ±170 hingga 192 gram CO₂/km, atau sepeda motor yang menghasilkan emisi sebesar ±90 hingga 110 gram CO₂/Km setiap orangnya,” ujar Karina.
Untuk memenuhi kebutuhan mobilitas yang terus meningkat, KAI Commuter menyatakan akan melanjutkan peningkatan kualitas layanan. Sejumlah upaya yang disiapkan meliputi peningkatan keandalan sarana, modernisasi fasilitas stasiun, integrasi antarmoda, serta efisiensi operasional yang memperhatikan lingkungan.
Perusahaan juga berencana memperluas aksesibilitas layanan dan meningkatkan kemudahan transaksi digital agar perjalanan menggunakan transportasi publik semakin mudah, aman, dan nyaman.
"Oleh karena itu, KAI Commuter berkomitmen untuk terus berinovasi, mulai dari peningkatan keandalan sarana, modernisasi prasarana stasiun, integrasi antarmoda, hingga efisiensi operasional yang berwawasan lingkungan," ujar Karina.
Editor: Donald Karouw