Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Dapatkah Rasionalitas Berpikir Bertahan di Zaman Artificial Intelligence? 
Advertisement . Scroll to see content

Penyerahan Kognitif dan Pabrikasi Ingatan Palsu: Distopia Artificial Intelligence?

Rabu, 04 November 2026 - 21:33:00 WIB
Penyerahan Kognitif dan Pabrikasi Ingatan Palsu: Distopia Artificial Intelligence?
Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital, Dr. Firman Kurniawan S. (Foto: Dok Pribadi)
Advertisement . Scroll to see content

Dr. Firman Kurniawan S.
Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital
Pendiri LITEROS.org

ARTIFICIAL intelligence (AI) yang makin digdaya bukan menjadi alasan utama untuk mengkhawatirkan relevansi manusia saat hidup berdampingan dengannya. Faktor AI saja tak mungkin mampu memarkir peran manusia dalam peradaban. 

Yang lebih memberatkan justru perilaku manusia sendiri. Sambil terus berkeluh kesah soal nasibnya di masa depan, manusia terus mereduksi kecerdasannya. Bahkan, tanpa sadar, manusia melakukan penyerahan kognitif (cognitive surrender) yang membuat akal pikirannya tumpul. Tak sulit menemukan tindakan mental maupun fisik yang melibatkan AI, mulai dari mencari gagasan, menguji rencana, dan menimbang keputusan, hingga mendiagnosis gejala penyakit dan mengendarai mobil. Bahkan, hari ini, mengusir sepi pun mengandalkan AI.

Fenomena cognitive surrender menggugah kesadaran global, seiring dengan meningkatnya ketertarikan khalayak pada tulisan Steven Shaw dan Gideon Nave pada 2026. Tulisan itu berjudul “Thinking - Fast, Slow, and Artificial: How AI is Reshaping Human Reasoning and the Rise of Cognitive Surrender”. Judul ini mengingatkan pada buku Daniel Kahneman, “Thinking, Fast and Slow”, yang ditulis pada 2011. Karya tersebut mengelompokkan mekanisme berpikir menjadi dua. Pertama, sistem 1, yakni mekanisme berpikir yang cepat, intuitif, otomatis, dan emosional. Sistem 2, yakni mekanisme berpikir yang lambat, reflektif, analitis, dan lebih mengandalkan aktivitas mental. Hanya saja, menurut kedua penulis, sistem yang diajukan Kahneman dinilai tidak lagi memadai, terutama ketika manusia harus membuat keputusan di tengah maraknya produk berbasis AI. Diperlukan Sistem 3, berupa mekanisme berpikir yang dijalankan oleh mesin cerdas. Mesin makin diperlukan untuk menyelesaikan persoalan manusia.

Untuk menerapkan Sistem 3, diperlukan cognitive surrender. Sebab, berbeda dengan penggunaan perangkat konvensional, penggunaan perangkat berbasis AI harus disertai kepercayaan penuh terhadap produk dan prosesnya. Seluruhnya didahului dengan pengenalan terhadap perangkat, kesediaan untuk menggunakannya, menjadikannya sebagai kolaborator berpikir, menerima dan mengandalkan hasilnya, serta menyerahkan proses berikutnya kepada perangkat tersebut. Maka, untuk percaya sepenuhnya, seseorang harus melemahkan evaluasi kritisnya. Evaluasi kritis merupakan paradoks dari kepercayaan.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut