Airlangga menjelaskan konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada sektor energi. Dia menyebut setidaknya ada tiga sektor yang langsung terdampak akibat ketegangan tersebut.
Pertama adalah terganggunya suplai minyak dunia yang selama ini banyak bergantung pada kawasan Timur Tengah. Ketika distribusi energi terhambat, harga komoditas minyak otomatis mengalami tekanan kenaikan.
Dampak kedua berkaitan dengan sektor transportasi dan logistik global. Ketegangan militer di kawasan strategis dapat menghambat jalur pelayaran dan distribusi barang antarnegara.
Sementara dampak ketiga menyasar sektor pariwisata internasional. Situasi keamanan yang tidak stabil biasanya membuat mobilitas wisatawan menurun, terutama menuju wilayah yang berada di sekitar zona konflik.
Pemerintah Indonesia saat ini masih menunggu perkembangan lebih lanjut terkait tensi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Durasi perang dinilai akan sangat menentukan dampaknya terhadap ekonomi global.
Meski demikian, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga ketahanan energi nasional. Salah satunya dengan memperluas sumber pasokan minyak dari luar kawasan Timur Tengah.
"Pemerintah sudah punya MOU untuk mendapatkan suplai dari non middle east," kata Airlangga.
Editor: Dani M Dahwilani