Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Sambut HUT ke-65, Kostrad Gelar Donor Darah sebagai Wujud Kepedulian Sosial
Advertisement . Scroll to see content

Perjuangan Mayor Inf Alzaki, Dari Jualan Asongan hingga Catatkan Sejarah di AS

Jumat, 28 Juni 2019 - 06:06:00 WIB
Perjuangan Mayor Inf Alzaki, Dari Jualan Asongan hingga Catatkan Sejarah di AS
Mayor Inf Alzaki menerima award dari The Simon Center dan namanya tercatat di Wall of Fame US Army Command and General Staff College. (Foto-Foto: Dispenad)
Advertisement . Scroll to see content

Prestasi favorit Alzaki saat itu adalah menjadi juara lomba bidang studi matematika. Dalam upacara tingkat kabupaten, Alzaki juga selalu menjadi komandan upacara saat itu. “Apabila ada lomba gerak jalan, tim kami selalu juara I,” ucapnya.

Dari apa yang disampaikan orang tuanya itu, Alzaki pun semakin terdorong untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya termasuk mewujudkan keinginannya menjadi anggota TNI.

“Selain bapak dan ibu, yang menjadi figur kekaguman saya ketika itu adalah sosok Babinsa Kodim 0308/Pariaman yang dalam kesehariannya begitu tulus membantu masyarakat. Dari kekaguman itu juga yang mendorong saya ingin jadi TNI,” kata Alzaki kala ditanyakan tentang figur panutannya ketika masih kecil.

Waktu terus berlalu, keinginannya untuk menjadi anggota TNI kian terpatri dan semakin memacu untuk tekun belajar, serta mempersiapkan dirinya untuk masuk Akademi TNI melalui jalur SMA Taruna Nusantara (SMA TN) pada tahun 1998.

“Waktu itu, saya dapat informasi dari anaknya teman ibu yang lebih dahulu masuk SMA TN bahwa selain lulusannya banyak yang menjadi Taruna (Akademi TNI) dan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun di luar negeri, juga selama sekolah mendapat beasiswa,” ujarnya.



Menurut Alzaki, dengan pola pendidikan yang ketat, di SMA TN tidak hanya belajar akademik. Namun juga digembleng kedisiplinan, mental, kepribadian dan jasmani serta kemandirian. “Sehingga itu, yang membuat saya lebih siap dalam mengikuti test dan masuk Akmil,” kata Alzaki.

Karena mengalami culture shock, kata dia, prestasinya yang waktu itu masih berusia 16 tahun, tidak optimal. “Mungkin karena itu, pertama kali saya jauh dari keluarga. Namun setelah itu, saya mencoba mengatur kembali cara belajar agar lebih baik. Termasuk selama di sekolah, saya jarang pesiar," ucap pria kelahiran Bukit Tinggi, Sumatera Barat itu.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut