Profil Yenny Wahid, Putri Gus Dur yang Jabat Komisaris Garuda

Aditya Pratama ยท Rabu, 22 Januari 2020 - 13:39 WIB
Profil Yenny Wahid, Putri Gus Dur yang Jabat Komisaris Garuda

Zannuba Ariffah Chafsoh atau yang akrab disapa Yenny Wahid, menjadi komisaris independen PT Garuda Indonesia. (Foto: iNews.id/Felldy Utama)

JAKARTA, iNews.id - Zannuba Ariffah Chafsoh atau yang akrab disapa Yenny Wahid, putri ketiga Presiden ke-3 RI KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur masuk dalam jajaran komisaris PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Dalam jajaran direksi dan komisaris hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Yenny menjabat sebagai komisaris independen.

Pada jajaran komisaris, Pemerintah menunjuk mantan kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia Triawan Munaf sebagai komisaris utama. Sedangkan pengusaha ternama Chairul Tanjung diplot menjadi wakil komisaris utama.

Selain Yenny, ada Elisa Lumbantoruan yang juga didapuk menjadi komisaris independen. Sedangkan Peter F Gonth sebagai komisaris.

BACA JUGA:

Triawan Munaf dan Yenny Wahid Jadi Komisaris Garuda, 99,98 Persen Pemegang Saham Setuju

Irfan Setiaputra Jadi Dirut, Ini Susunan Lengkap Direksi Garuda Indonesia

Eks Komisaris Utama Garuda Indonesia Sahala Lumban Gaol menyebut terpilihnya Triawan dan Yenny telah disetujui para pemegang saham Garuda. "Saya pimpinan rapat, semua tadi saya sampaikan pemegang saham menyetujuinya sampai 99,98 persen," ujar Sahala di Tangerang, Banten, Rabu (22/1/2020).

Jabatan kali ini mungkin baru bagi Yenny Wahid. Sebelum menjadi komisaris, perempuan kelahiran 29 Oktober 1974 ini sempat menjadi kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bahkan menjabat sebagai sekretaris jenderal (sekjen).

Yenny yang lulus dari SMA Negeri 28 Jakarta pada 1992, melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia dengan jurusan psikologi. Namun, bidang tersebut tidak ditempuh hingga selesai.

Atas saran almarhum Gus Dur, Yenny kemudian melanjutkan kuliah di Universitas Trisakti dengan mengambil jurusan desain dan komunikasi visual. Dia lalu melanjutkan kuliah di luar negeri dengan mengambil studi administrasi publik di Universitas Harvard, Boston, Amerika Serikat (AS).

Usai menempuh pendidikan, Yenny menggeluti dunia jurnalistik. Dia menjadi koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne).

Selama rentang 1997-1999, Yenny sempat ditugas meliput di Timor Timur dan Aceh. Walaupun saat itu banyak wartawan memilih angkat kaki dari Timor Timur, hal itu tidak berlaku bagi suami Dhohir Farisi.

Yenny kembali ke Jakarta usai mendapat perlakuan kasar dari milisi. Meski begitu, tujuh hari setelah peristiwa itu, Yenny kembali ke Timor Timur. Keputusannya kembali ke Timor Timur ternyata tepat, karena Yenny Wahid mendapat anugerah Walkley Award berkat liputannya mengenai Timor Timur pascareferendum.

Saat Reformasi 1998 bergulir di ibu kota Jakarta, Yenny ikut merasakan atmosfer yang mencekam. Suasana itu didapat ketika dirinya ditodongkan senjata oknum anggota ABRI (saat ini TNI) yang berusaha mensterilkan jalan lingkar Trisakti.

Saat Gus Dur terpilih menjadi presiden, Yenny pun berhenti dari kerjaan dan menjadi staf khusus presiden bidang komunikasi politik. Usai Gus Dur tidak menjabat sebagai presiden, Yenny meneruskan pendidikannya dengan meraih gelar Master's in Public Administration di Universitas Harvard. Gelar S2 itu didapat dari beasiswa Mason.

Pada 2004, sekembalinya dari Negeri Paman Sam, Yenny sempat menjadi direktur Wahid Institute. Yenny juga pernah menjadi staf khusus bidang komunikasi politik pada periode pertama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Editor : Djibril Muhammad