Puan Pimpin Parlemen se-Asia Tenggara, Susun Draf Pesan untuk Disampaikan di KTT ASEAN
JAKARTA, iNews.id - Ketua DPR RI Maharani memimpin pertemuan bersama perwakilan parlemen ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) menjelang ASEAN-AIPA Leaders Interface Meeting di Labuan Bajo, Selasa (9/5/2023). Pertemuan tersebut merupakan rangkaian kegiatan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN.
Seluruh perwakilan parlemen se-Asia Tenggara yang hadir antaranya Ketua DPR Vietnam Nguyen Duc Hai, Ketua DPR Laos Sounthone Xayachack, perwakilan parlemen Malaysia, Dato Johari bin Abdul dan perwakilan parlemen Singapura Desmond Choo.
Sementara itu Parlemen Thailand diwakili oleh Singsuk Singpai yang merupakan Wakil Pertama Ketua Majelis Tinggi Thailand.
“ASEAN-AIPA Leaders Interface merupakan platform penting untuk dialog dan konsultasi antara para Pemimpin ASEAN dan AIPA,” kata Puan
Dalam Preparatory Meeting ini, seluruh delegasi yang hadir akan meninjau draf awal pesan AIPA atau AIPA Message yang akan disampaikan di ASEAN-AIPA Leaders Interface. AIPA Message atau Pesan AIPA yang sudah disetujui oleh seluruh perwakilan parlemen Asia Tenggara akan dibacakan oleh Puan di depan 11 pimpinan negara ASEAN.
“Besok kami akan menyampaikan hal-hal yang dilakukan AIPA di depan pemimpin-pemimpin negara ASEAN yang akan dibuka oleh Presiden Jokowi,” tutur Puan.
Menurut dia, Preparatory Meeting AIPA juga turut membahas pertumbuhan ekonomi global yang relatif lambat karena terpukul oleh pandemi Covid-19, adanya perang, dan gangguan pasokan pangan dan energi. Untuk menghadapi isu global, kata Puan, diperlukan kerja sama antara pihak eksekutif dan legislatif.
“Isu-isu yang terkait dengan ASEAN nantinya bisa kita sampaikan dan bekerja sama bersama eksekutif atau pemerintah dalam permasalahan-permasalahan dan mencari solusi yang diinginkan,” terang mantan Menko PMK itu.
Puan melanjutkan, Indonesia akan mendorong isu perlindungan pekerja migran Indonesia (PMI) yang kerap mendapatkan kekerasan dan eksploitasi saat bekerja di luar negeri. Apalagi banyak PMI yang ada di negara-negara Asia Tenggara.
“Ini juga menjadi isu yang dibicarakan, bukan hanya di parlemen tapi juga di eksekutif atau pemerintah dan saya merasa KTT ASEAN ini bersama dengan AIPA akan menjadi salah satu tempat yang penting terkait permasalahan dan mencari solusi terkait penguatan perlindungan pekerja migran di ASEAN,” urai Puan.
Di hadapan para delegasi, Puan mengatakan Asia Tenggara saat ini juga tengah menghadapi ketegangan geopolitik yang meningkat dan persaingan kekuatan besar. Seperti potensi konflik yang muncul di Laut China Selatan jika tidak dikelola dengan baik.
“Beberapa ahli telah memperingatkan kita bahwa situasinya menyerupai era perang dingin,” ungkapnya.
Puan menyatakan, kawasan yang damai adalah prasyarat bagi Asia Tenggara yang sejahtera. Hal ini menjadi enabler untuk mencapai berbagai tujuan sosial seperti pengentasan kemiskinan di daerah
“Di bidang ekonomi, kita perlu lebih memperkuat kerja sama dan integrasi ekonomi regional kita. Ini untuk merespon fragmentasi ekonomi dunia, dan gangguan pada rantai pasok global,” terangnya.
Dia mengatakan, AIPA harus membangun ASEAN sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi global, sebagaimana telah disepakati sebagai tema ASEAN tahun 2023. Menurut Puan, hal tersebut akan membantu negara-negara ASEAN menciptakan lebih banyak pekerjaan, memberikan layanan kesehatan dan pendidikan bagi orang-orang di wilayah tersebut.
“Di bidang sosial budaya, kita harus membantu mempererat hubungan antar masyarakat terutama di kalangan generasi muda. Demikian pula, parlemen di daerah ini harus melanjutkan perannya sebagai penjaga demokrasi, supremasi hukum, dan hak asasi manusia,” katanya.
Editor: Faieq Hidayat