Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti buka suara terkait masih tingginya angka kredit nganggur. (Foto: YouTube Bank Indonesia)
"Kenapa? Karena disitu kita akan melihat bank-bank yang terlalu banyak mengalokasikan aset likuid-nya dalam bentuk SSB, apakah itu SBN atau SRBI, itu kita akan memberikan disincentive, jadi dalam bentuk GWM (giro wajib minimum)-nya,” ungkap Destry.
Sebaliknya, bank yang menjaga kepemilikan surat berharga di bawah ambang batas serta aktif menyalurkan kredit dapat memperoleh tambahan insentif likuiditas. Secara keseluruhan, BI menetapkan total KLM paling tinggi 6 persen dari DPK mulai September 2026.
“Maka kita akan memberikan mereka insentif, yaitu penurunan GWM, sehingga akan terjadi penambahan likuiditas buat mereka, karena mereka juga menyalurkan kreditnya,” pungkas Destry.