Rupiah Hari Ini Ditutup Anjlok ke Rp18.135 per Dolar AS, Analis Ungkap Biang Keroknya
Pasar juga menantikan rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti, indikator inflasi yang menjadi salah satu acuan The Fed, pada Kamis.
Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga AS dan pergerakan dolar. Perubahan ekspektasi itu selanjutnya dapat memengaruhi arus modal serta tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti risiko fiskal akibat kenaikan harga minyak global. Sebagai negara pengimpor neto minyak, Indonesia berpotensi menghadapi peningkatan biaya impor energi ketika harga minyak dunia naik.
Kenaikan harga minyak juga dapat menambah beban subsidi energi dan kompensasi kepada Pertamina. Meskipun penerimaan negara dari sektor migas berpotensi meningkat, tambahan pendapatan tersebut dinilai belum tentu mampu mengimbangi kenaikan belanja energi, terutama jika harga BBM domestik dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi.
Kondisi tersebut dapat mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan risiko pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).