Rupiah Hari Ini Ditutup Anjlok ke Rp18.135 per Dolar AS, Analis Ungkap Biang Keroknya
Dalam analisisnya, Ibrahim menyoroti sensitivitas APBN 2026 terhadap perubahan sejumlah asumsi ekonomi makro, termasuk imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN), nilai tukar rupiah, dan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP).
Setiap kenaikan yield SBN sebesar 0,1 poin persentase disebut berpotensi memperlebar defisit APBN sebesar Rp1,9 triliun. Sementara itu, depresiasi rupiah sebesar Rp100 per dolar AS berpotensi menambah defisit Rp800 miliar.
Adapun kenaikan ICP sebesar USD1 per barel disebut dapat memperlebar defisit APBN hingga Rp6,8 triliun.
Ibrahim juga menyoroti harga ICP hingga akhir September 2026 yang disebut telah mencapai USD91,9 per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar USD70 per barel.
Tekanan tersebut turut menjadi perhatian karena belanja subsidi dan kompensasi energi hingga 30 September 2026 telah mencapai Rp376,8 triliun, atau meningkat 54,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, berdasarkan data yang dikutip dalam analisisnya.