Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah, Dekati Level Rp18.000 per Dolar AS
Pesan yang beragam ini telah menjaga ketidakpastian tetap tinggi, membatasi penurunan harga minyak mentah bahkan ketika Arab Saudi, UEA, dan produsen Teluk lainnya terus memulihkan ekspor melalui Selat Hormuz.
Dari sentimen domestik, pasar merespon negatif usai Fitch Ratings dalam laporan terbarunya memberi pandangan mendalam mengenai rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia, yang terlihat dari indikator pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, hingga arus modal keluar yang masif.
Namun demikian, perhatian sesungguhnya dari Fitch adalah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi.
Lembaga pemeringkat itu memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah sekaligus memperbesar risiko terhadap penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia, yang pada Maret 2026 masih dipertahankan pada level BBB dan prospek (outlook) direvisi menjadi negatif.
Selain Fitch Ratings, pasar juga gelisah setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026, sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan beruntun.