Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.966 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang tidak mencakup komponen makanan dan energi serta menjadi tolok ukur inflasi inti pilihan Federal Reserve naik 0,2 persen pada bulan Agustus, angka yang berada di bawah perkiraan, sehingga memberikan sedikit kelegaan bagi pasar terkait prospek inflasi.
Data tersebut mendorong para pelaku pasar untuk memangkas secara tajam ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan Oktober. Probabilitas tersirat turun menjadi sekitar 34 persen, dari sebelumnya hampir 70 persen pada awal pekan.
Pada saat yang sama, belanja konsumen AS pada bulan Agustus mencatat kenaikan tercepat dalam lebih dari satu tahun, yang memperkuat keyakinan bahwa perekonomian mampu bertahan menghadapi suku bunga yang lebih tinggi.
Ketahanan tersebut turut menjaga imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor panjang tetap berada di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade. Kini, pasar akan mencermati laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada hari Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Dari sentimen dalam negeri, aktivitas manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada September 2026 setelah mengalami kontraksi di Agustus. Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, menunjukkan PMI Indonesia berada di 52,4 di September 2026 atau mengalami ekspansi. PMI berbalik arah dari sebelumnya fase kontraksi 49,8 di Agustus 2026. Indeks PMI di September yang mencapai 52,4 adalah yang tertinggi sejak Februari 2026 atau tujuh bulan.