Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.966 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
Secara bersamaan, Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami suplus 3,55 miliar dolar AS per Agustus 2026. Surplus ini ditopang oleh kinerja ekspor Indonesia yang mencapai 26,61 miliar dolar AS melampaui nilai impor 23,06 miliar dolar AS per Agustus 2026. Adapun, BPS mencatat nilai ekspor RI mencapai 26,61 miliar dolar AS atau naik 6,72 persen secara tahunan pada Agustus 2026.
Sementara itu, impor Indonesia tercatat sebesar 23,06 miliar dolar AS, naik 19,09 persen dibandingkan Agustus 2025. Demikian pula dengan impor nonmigas naik 17,20 persen menjadi 19,53 miliar dolar AS.
Menurut data BPS, ekspor Indonesia meningkat terutama didorong oleh sejumlah komoditas a.l. nikel yang naik 51,67 persen secara tahunan dan alumunium yang meroket hingga 206,78 persen secara tahunan pada Agustus 2026.
Kemudian, Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali meningkat pada September 2026. Kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi dan sejumlah bahan pangan menjadi salah satu sumber tekanan terbesar.
IHK tercatat mengalami inflasi sebesar 0,30 persen secara bulanan (mtm) pada September 2026. Adapun, secara year on year, inflasi sebesar 3,28 persen.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.960-Rp18.030 per dolar AS.
Editor: Aditya Pratama