Kemudian, perhatian pelaku pasar pada Agustus tidak hanya tertuju pada hasil peninjauan indeks MSCI, namun juga menantikan pengumuman FTSE Russell periode 10-14 Agustus 2026. Terkait status pembekuan (freeze) Indonesia yang diperkirakan menjadi salah satu katalis penting bagi pasar saham dalam waktu dekat.
Walaupun reformasi yang telah dilakukan regulator OJK menjadi perkembangan positif, namun belum menjamin perubahan sikap FTSE maupun MSCI dalam waktu dekat.
Sementara itu, MSCI diperkirakan baru menyampaikan evaluasi lanjutan atas tuntutan reformasi pasar modal Indonesia menjelang akhir Oktober 2026.
Besarnya pengaruh keputusan penyedia indeks global juga tercermin dari dana pasif yang mereka Kelola, aset kelolaan (passive assets under management/AUM) indeks MSCI mencapai sekitar 5 miliar dolar AS atau setara Rp89,98 triliun dengan asumsi kurs Rp17.995 per dolar AS.
Nilai tersebut jauh lebih besar dibandingkan FTSE Russell yang memiliki passive AUM sekitar 1,5 miliar-2 miliar dolar AS atau setara Rp26,99 triliun-Rp35,99 triliun.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.920-Rp17.970 per dolar AS.
Editor: Aditya Pratama