Rupiah Hari Ini Ditutup Terkoreksi, Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS
Menurut pandangannya, bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Di Asia, data pada hari Senin menunjukkan ekonomi China tumbuh 5,0 persen tahun lalu, memenuhi target pemerintah dengan merebut pangsa permintaan global barang yang mencapai rekor untuk mengimbangi konsumsi domestik yang lemah.
Dari sentimen domestik, demi mendukung terciptanya ekonomi 8 persen, pemerintah akan mencoba menerapkan kebijakan yang relatif tidak lazim sehingga adanya risiko jangka menengah yang lebih besar, yang dapat memicu sentimen negatif lebih lanjut terhadap rupiah.
“Selain itu, kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Indonesia kembali mencuat setelah terungkap pada 8 Januari 2026 bahwa defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum sebesar 3 persen, sementara penerimaan negara masih lemah. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah,” ucapnya.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.950-Rp16.980 per dolar AS.
Editor: Aditya Pratama