Rupiah Sepekan Anjlok 0,58 Persen, Nyaris Sentuh Rp16.900 per Dolar AS
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti kondisi kelas menengah Indonesia yang menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi namun kini tengah tertekan. Kelompok ini mulai bergeser menjadi kelompok rentan, sehingga memerlukan stimulus tambahan guna menjaga daya beli di tengah gejolak ekonomi global.
Berdasarkan analisis teknikal dan fundamental tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah masih akan bergerak fluktuatif dan berisiko ditutup melemah pada rentang Rp16.840 hingga Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan selanjutnya.
Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh aksi jual aset domestik oleh investor asing. Bank Indonesia mencatat terjadi aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia sebesar Rp7,71 triliun sepanjang periode 12–14 Januari 2026.
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso merinci bahwa pelepasan aset tersebut didominasi oleh pasar Surat Berharga Negara (SBN).
"Selama tahun 2026, berdasarkan data setelmen sampai dengan 14 Januari 2026, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp5,33 triliun di SRBI dan Rp6,16 triliun di pasar saham, serta jual neto sebesar Rp9,91 triliun di pasar SBN," ucap Ramdan dalam keterangannya.
Secara lebih spesifik, aliran modal keluar pada pekan ini terdiri dari jual neto sebesar Rp8,15 triliun di pasar SBN dan Rp2,64 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang sedikit tertahan oleh beli neto asing di pasar saham senilai Rp3,08 triliun.
Editor: Aditya Pratama