Menurutnya, sebagian pelaku pasar menilai Indonesia menuju kondisi krisis seperti tahun 1998. Narasi tersebut dinilai memengaruhi kepercayaan pasar sehingga berdampak pada pergerakan rupiah dan pasar saham.
“Yang jelas kita monitor dari waktu ke waktu dan saya enggak akan terlambat mengambil keputusan kalau diperlukan. Rupiah Rp17.000 karena sebagian teman-teman ekonom bilang katanya kita sudah resesi menuju 1998 lagi gitulah daya beli sudah hancur,” katanya.
Purbaya menegaskan kondisi tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Dia menilai perekonomian Indonesia saat ini justru masih berada pada fase ekspansi.
“Tidak seperti itu. Ekonomi sedang ekspansi, daya beli kita jaga mati-matian dan boro-boro krisis. Jangankan krisis, resesi saja belum, melambatnya saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi,” ujarnya.
Dia menambahkan pemerintah terus memantau perkembangan ekonomi global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah yang dapat memicu volatilitas pasar keuangan dunia.
Meski terdapat tekanan eksternal, Purbaya menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi berbagai gejolak global.
Pemerintah juga terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama melalui kebijakan yang mendukung daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi domestik.
Menurutnya, menjaga konsumsi masyarakat menjadi salah satu kunci penting agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Purbaya memastikan pemerintah akan terus mengambil langkah cepat apabila situasi ekonomi memerlukan penyesuaian kebijakan dalam waktu dekat.
Editor: Dani M Dahwilani