Sasar Unej, Yaqut Minta Mendikbud Fokus Hadapi Gerakan Radikalisme di Kampus

iNews.id ยท Jumat, 13 Desember 2019 - 15:45 WIB
Sasar Unej, Yaqut Minta Mendikbud Fokus Hadapi Gerakan Radikalisme di Kampus

Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas. (Foto: ANTARA)

JAKARTA, iNews.id — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, diminta fokus terhadap sejumlah kampus negeri yang diduga terpapar radikalisme. Pesan itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qoumas.

Menurut dia, permintaan agar Mendikbud Nadiem lebih memperhatikan persoalan radikalisme yang berkembang di kampus bukan tanpa dasar karena ancamannya sudah di depan mata. “Mas Menteri Nadiem saya pikir harus mulai memetakan potensi gerakan radikalisme yang ada di kampus, terutama di universitas negeri yang secara birokrasi langsung di bawah beliau,” ujar Yaqut di Jakarta, Jumat (13/12).

Politikus PKB itu berpendapat, peringatan soal potensi gerakan radikalisme di kampus itu sudah diungkapkan jauh-jauh hari oleh sejumlah lembaga. Salah satunya adalah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

“Ini merupakan pekerjaan besar bagi Mendikbud agar jalan ideologi sejumlah kampus negeri tegak lurus dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Potensi radikalisme ini mengemuka kurang lebih dalam 2-3 tahun terakhir,” ujarnya.

Survei Alvara Research di tahun ini menyebutkan, sejumlah kampus universitas negeri terkemuka terpapar radikalisme yang dibawa kelompok-kelompok keagamaan yang eksklusif yakni kelompok Salafi-Wahabi. Gus Yaqut lantas mencontohkan kejadian yang menimpa Ketua LP3M Universitas Jember (Unej) Akhmad Taufiq yang diberhentikan Rektor Unej Prof Moh Hasan setelah pemaparan soal radikalisme yang ada di kampus.

“Peringatan dari Pak Taufiq kenapa harus berujung pemberhentian? Padahal itu peringatan baik yang harus direspons dengan cermat pula oleh rektorat. Semestinya Pak Nadiem mengingatkan Rektor Unej,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3EM) Unej, Akhmad Taufiq, diberhentikan rektor setelah memaparkan pemetaan ilmiah dalam Festival HAM yang digelar Pemkab Jember pada pertengahan November 2019. Hasil pemetaan LP3M Unej menyebut, 22 persen mahasiswa Unej terpapar radikalisme.

“Angka 22 persen mahasiswa terpapar radikalisme di sebuah Perguruan Tinggi Negeri saya kira sudah masuk kategori mengkhawatirkan. Kenapa rektor kemudian bertindak seperti itu? Apa karena ada persoalan internal di antara mereka? Atau memang rektor abai terhadap potensi itu?” kata Yaqut.

Dia menegaskan, permasalah yang terjadi seperti di Universitas Jember harus menjadi perhatian serius bagi Kemendikbud.


Editor : Ahmad Islamy Jamil