Semangat Santri di Tengah Keterbatasan Fasilitas Pesantren

Tim iNews.id · Selasa, 21 Juni 2022 - 17:35:00 WIB
Semangat Santri di Tengah Keterbatasan Fasilitas Pesantren
Santri Hidayatul Ihsan tengah mengaji di ruang kelas yang terbuat dari kayu.

JAKARTA, iNews.id - Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat santri Pesantren Hidayatul Ihsan di Desa Cipertani, Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya untuk mempelajari agama Islam. Setiap hari, santri beraktivitas di pesantren dengan kondisi yang serba terbatas.

Terlihat, bangunan pesantren mulai rapuh termakan zaman. Salah satu pengajar Pesantren Hidayatul Ihsan Ustaz Kusnaedi mengatakan, pesantren berdiri pada tahun 2004 dan saat ini telah memiliki 84 santri.

Para santri, mayoritas berasal dari keluarga dengan ekonomi tidak mampu. Sehingga pesantren tidak mewajibkan santrinya membayar iuran pendidikan.

"80 persen santri datang dari keluarga prasejahtera. Mereka belajar di sini bermodal nekat, tekad, dan semangat yang kuat untuk belajar. Santri bayar semampunya, kalau tidak mampu, kami gratiskan biaya pendidikannya. Untuk makan sehari-hari, mereka masak di dapur umum pesantren dengan bahan-bahan hasil kebun pesantren,” kata Ustaz Kusnaedi.

Untuk santri yang telah cukup usia, pesantren memberikan kesempatan untuk mencari penghasilan tambahan di luar pesantren. Beberapa di antara mereka ada yang menjadi kuli bangunan hingga membantu di kebun warga asal tidak mengganggu kegiatan di pesantren.

Ridwan Fauzi dari tim ACT Tasikmalaya, menjelaskan kondisi bangunan Pesantren Hidayatul Ihsan sudah mulai rusak. Dinding dan lantainya mulai lapuk karena terbuat dari bambu. Jika dilihat dari kejauhan, bangunan ini mirip seperti gubuk atau saung bambu.

Tak hanya itu, para santri juga tidur beralaskan tikar dan berdesakan. Untuk Mandi, Cuci, Kakus (MCK) mereka harus berjalan kurang lebih 200 meter dari lokasi.

"Karena dimakan usia, bambu dan kayu sudah mulai lapuk. Kalau malam, udara dingin juga mudah masuk lewat celah dinding. Santri tidur beralas tikar tanpa kasur serta berdesakan. Pesantren belum bisa merenovasi karena terkendala biaya. Untuk kegiatan MCK pun santri harus melakukannya di tempat yang cukup jauh, sekitar 200 meter dari lokasi pesantren,” tutur Ridwan.

Sementara itu, Pesantren Hidayatul Ihsan hanya memiliki enam orang pengajar. Semua pengajar bekerja secara sukarela. Tak ada bayaran. Akan tetapi pengajar seluruhnya tetap istikamah.

Editor : Puti Aini Yasmin

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda