Soal Akurasi Tes Swab Covid-19, Pengamat Intelijen : BIN Gunakan Ambang Batas Lebih Tinggi Dibanding Lembaga Lain
Kedua, terjadi bias pre-analitik yaitu pengambilan sampel dilakukan oleh 2 orang berbeda dengan kualitas pelatihan berbeda dan SOP berbeda pada laboratorium yang berbeda, sehingga sampel swab sel yang berisi virus Covid-19 tidak terambil atau terkontaminasi.
Ketiga, sensitivitas reagen dapat berbeda terutama untuk pasien yang nilai CQ/CT-nya sudah mendekati 40. Dalam kaitan ini, BIN menggunakan reagen perkin elmer (usa), a-star fortitude (Singapur), Wuhan Wasy Diag (China).
Reagen ini dinilai lebih tinggi standar dan sensitivitasnya terhadap strain Covid-19 dibandingkan merk lain seperti Genolution (Korea) dan liferiver (China) yang digunakan beberapa rumah sakit.
"Dengan demikian dapat disimpulkan terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi perbedaan uji swab antara lain, kondisi peralatan, waktu pengujian, kondisi pasien dan kualitas tes kit. BIN menjamin kondisi peralatan, metode dan tes kit yang digunakan adalah Gold Standard dalam pengujian sampel Covid-19. Kasus false positive dan false negatif sendiri telah banyak dilaporkan di berbagai negara seperti amerika serikat, China dan swedia," tuturnya.
Menurutnya, BIN dalam menggelar kegiatan tes massal di berbagai titik, berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat termasuk dinas kesehatan serta gugus tugas daerah untuk membantu menentukan lokasi yang menjadi klaster penyebaran Covid-19.