Sosiolog UGM: Politik Indonesia Butuh Sosok Anak Muda

Irfan Ma'ruf · Senin, 23 Desember 2019 - 00:43 WIB
Sosiolog UGM: Politik Indonesia Butuh Sosok Anak Muda

Politikus PDIP Budiman Sudjatmiko memaparkan pandangan politiknya saat peluncuran buku “Secangkir Politik” yang ditulis Sosiolog UGM Arie Sudjito di Jakarta, Sabtu (21/12/2019). ( Foto: istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Kaum muda di Indonesia bisa menjadi subjek-subjek baru dalam politik untuk memperbaharui gagasan kebangsaan dan menjadi pilihan alternatif dari oligarki yang saat ini mendominasi.

Hal itu diungkapkan Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sudjito, saat meluncurkan bukunya “Secangkir Politik” di Jakarta, Sabtu (21/12/2019).

Menurut dia, institusi politik di Indonesia bisa diperbaiki dengan meningkatkan kualitas kader dengan memberikan pendidikan politik yang memadai.

“Meminta perbaikan dalam kondisi politik itu seharusnya tidak anti-politik. Anak muda bisa masuk dalam politik,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Minggu (22/12/2019).

Diskursus politik di kalangan anak muda, menurutnya, akan melahirkan gagasan-gagasan orisinal yang bisa menjadi alternatif dari kondisi yang selama ini dirasakan tidak ideal.

“Kita akan memetiknya 5-10 tahun mendatang. Akan ada banyak gagasan baru yang berkontestasi,” ujar dia.

Arie menilai kaum milenial mempunyai keunikan karena bisa cepat menyebarkan gagasan melalui media sosial.

Arie menggarisbawahi soal politik identitas sepanjang 2019 dan selama masa kampanye pemilihan presiden (pilpres).

Dia mengatakan, saat kampanye, dampak dari politik identitas terasa sekali dalam kehidupan bermasyarakat.

"Memang tak ada kerusuhan, tapi tak bisa dipungkiri ada fragmentasi. Jadi politik tak usai pada 2019," katanya.

Politisi PDIP Budiman Sudjatmiko mengatakan politik identitas saat ini memang mengancam demokrasi.

"Kita mesti mewaspadai kecenderungan pragmatism-driven society ini dan mendorongnya menjadi transformed society. Saya kira kuncinya ada pada generasi muda," ujarnya.


Editor : Kastolani Marzuki