Survei Alvara Sebut 50 Persen Lebih Orangtua Takut Anak Kembali Bersekolah
JAKARTA, iNews.id - Menjelang normal baru, ketakutan para orangtua jika anaknya kembali bersekolah cukup tinggi mengingat penyebaran covid-19 yang masih signifikan. Hasil survei lembaga Alvara Research Center menyebut lebih dari 50 persen atau tepatnya 54,5 persen orang tua tidak setuju jika anak masuk sekolah kembali.
CEO Alvara Hasanuddin Ali menjelaskan berbagai alasan yang membuat para orangtua cukup takut anaknya kembali ke sekolah. Antara lain, takut tertular dan membawa covid-19, karena anak rentan terhadap penyakit, susah mengikuti protokol kesehatan seperti memakai masker dan cuci tangan serta suka jajan sembarangan.
"Dua dari lima orang setuju jika anak sekolah masuk kembali setelah “New Normal” diberlakukan," ujar Hasanuddin saat merilis hasil survei secara virtual, Minggu (12/7/2020).
Hasanuddin mengatakan persentase orangtua yang setuju anak kembali bersekolah cukup tinggi yakni 45,5 persen. Alasannya antara lain anak justru tidak belajar ketika berada di rumah, anak bosan di rumah saja, anak susah disuruh belajar, dan anak jadi sering bermain.
Selain itu, anak mengaku sudah kangen masuk sekolah dan orangtua tidak memiliki teknik mengajar anak yang baik di rumah. Kemudian menghabiskan kuota internet, orangtua belum memahami substansi pelajaran, dan alasan orangtua yang sudah mulai kembali bekerja di era new normal.
Hasan juga menyebutkan harapan mayoritas publik jika sekolah masuk kembali saat kondisi new normal. Antara lain semakin memasifkan imbauan untuk mengikuti protokol kesehatan dengan menyediakan tempat cuci tangan, masker, vitamin, dan diberlakukan shift masuk sekolah.
Selain itu, pemerintah dan sekolah diminta menyediakan vitamin untuk menjaga imun anak, kantin sekolah diimbau untuk menjual makanan bergizi, dan dilakukan rapid test selama seminggu sekali. Sekolah juga diminta menyediakan makanan bergizi. Menurutnya, pendidikan anak di era pandemi ini menjadi masalah serius baik bagi anak, sekolah maupun orangtua.
"Saya tidak bisa membayangkan misalnya punya anak tiga, terus mereka harus belajar online secara bersamaan, betapa repotnya, rumitnya," katanya.
Hasan menyarankan agar pemerintah memberikan panduan kepada sekolah mengenai sistem belajar di rumah. Pemerintah tidak bisa hanya menyerahkan kepada sekolah untuk berkreasi dan membuat pola pendidikan sendiri di era pandemi ini.
"Pemerintah harus membuat SOP untuk memberikan panduan bagi sekolah dan juga kepada orangtua. Mereka juga perlu dibimbing cara mendidik anak yang dibutuhkan apa, kompetensinya apa, itu yang diperlukan orangtua," ucapnya.
Selain itu pemerintah juga harus memperhatikan kuota internet bagi anak sekolah untuk belajar secara online. Terutama bagi masyarakat yang tidak punya kemampuan untuk membelinya.
"Kelompok bawah untuk makan saja belum tentu punya uang, makanya bantuan tunai dan sembako sangat penting. Dalam kaitannya pendidikan, perlu ada bantuan kuota internet sehingga anak bisa mengikuti pembelajaran online," ujarnya.
Editor: Rizal Bomantama