Tangis dan Kenangan Xanana tentang Habibie

Antara ยท Senin, 16 September 2019 - 06:39 WIB
Tangis dan Kenangan Xanana tentang Habibie

Presiden Pertama Timor Leste, Xanana Gusmao (tengah), didampingi Dubes Timor Leste untuk RI, Alberto Xavier Pereira Carlos (kiri); putra almarhum Presiden ke-3 RI BJ Habibie, Ilham Akbar Habibie (kedua kanan) dan Thareq Kemal Habibie (kanan). (Foto:

JAKARTA, iNews.id – Mata Xanana Gusmao tampak merah dan berkaca-kaca, tatkala keluar dari kediaman almarhum BJ Habibie di bilangan Kuningan, Jakarta, Sabtu (14/9/2019) malam. Kedua matanya sembab karena sisa air mata yang masih basah, menangisi kepergian kawan lamanya yang juga presiden ketiga RI itu.

Xanana tidak bisa langsung terbang ke Jakarta dari Timor Leste setelah mendengar Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie tutup usia pada Rabu (11/9/2019). Pun esok harinya, saat jenazah Habibie dikebumikan.

“Ini yang saya tidak akan lupakan,” kata Xanana, lalu terdiam seperti menahan sesak yang sedikit lagi berubah tangis.

“Tapi sudah, saya tidak bisa cry everyday (menangis setiap hari). Saya akan ikut menyusul. Beliau (Habibie) 83 tahun, adiknya (saya) 73. Kita sudah setiap hari mendekati waktunya juga,” lanjut presiden pertama Timor Leste itu yang memosisikan dirinya sebagai adik dari Habibie.

Duka cita tak lupa dia sampaikan. Kepada dua putra Habibie, Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie yang mewakili keluarga almarhum, Xanana menyerahkan surat resmi dari pemerintah Timor Leste dan surat dari dia pribadi.

“Saya ke sini sebagai wakil pemerintah dan seluruh rakyat Timor Leste, membawa pesan untuk keluarga Pak Habibie, mengekspresikan perasaan belasungkawa yang sedalam-dalamnya,” ujarnya.

Kehadiran Xanana Gusmao, pejuang kemerdekaan dan presiden pertama Timor Leste, di kediaman almarhum BJ Habibie malam itu, menjadi suatu hal yang istimewa mengingat hubungan historis dan emosional yang terjalin di antara keduanya.

Usai takziah dan menyampaikan dukacita kepada keluarga sang kawan lama, seorang jurnalis bertanya kepada Xanana tentang kenangan tentang Habibie yang tidak pernah dia lupakan.

“Memori tentang Pak Habibie, waktu beliau bilang kasih kepada rakyat Timor Leste hak untuk memilih,” jawab Xanana dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata, namun tegas.

Dia lantas bercerita tentang pertalian dengan Habibie dan perannya dalam referendum Timor Leste pada 30 Agustus 1999. Kisah dua dekade silam yang kini mengikat sejarah Timor Leste dan Indonesia.

Pada 1999 di masa menjelang referendum, Xanana masih menjadi tahanan politik di era Presiden Soeharto dan dipenjarakan di Cipinang sejak 1992. Xanana berseloroh bahwa saat itu dirinya adalah “warga negara Cipinang”.

Sebelum dimasukkan penjara, Xanana aktif dalam Falintil (Forcas Armadas da Libertacao Nacional de Timor-Leste atau Angkatan Bersenjata untuk Pembebasan Nasional Timor Timur), sayap paramiliter dari partai politik Fretelin.

Upaya yang giat dia lakukan untuk melepaskan wilayah Timor Timur saat itu, baru mencapai titik terang ketika BJ Habibie menjabat sebagai presiden Indonesia, menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri atas desakan people power pada Mei 1998.

“Karena tahun ‘83 saya sudah kasih peace plan. Tapi 16 tahun kemudian pada 1999 baru bisa terjadi dan Pak Habibie adalah seorang aktor penentu di situ,” kata Xanana.

Di dalam penjara, sebuah kabar datang kepada Xanana bahwa Presiden Habibie telah mengirimkan surat kepada PBB untuk meminta referendum bagi Timor Leste. Xanana masih ingat betul bagaimana dia berteriak di selnya untuk meluapkan kegembiraan hingga para sipir mendekat dan bertanya ada apa gerangan.

“Mau pecah hatiku, mau pecah,” ujar Xanana berapi-api sembari menunjuk dadanya.

Masa-masa itu akan selalu dikenang Xanana yang merangkum jasa Habibie dalam satu kalimat penuh makna, “Pak Habibie, dalam waktu yang singkat, dalam waktu yang sulit, memberi kesempatan kepada rakyat Timor Leste hak untuk self-determination, oleh karena itu kami tidak akan melupakan beliau.”

Seusai melayat ke kediaman Habibie malam itu, keesokan paginya Xanana mengunjungi tempat peristirahatan terakhir almarhum di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Minggu (15/9/2019).

Tiba di depan makam Habibie, Xanana sempat duduk terdiam. Tak berapa lama, dia bangkit dan mengalungkan rangkaian bunga dan pada nisan dan menaburkan bunga di atas makam yang masih basah. Dia lantas menunduk memanjatkan doa dan membungkukkan badan memberi penghormatan kepada kawan lama yang dia anggap sebagai kakak.

Di belakangnya, puluhan mahasiswa Timor Leste yang tengah mengenyam pendidikan tinggi di berbagai universitas di Jakarta dan Bekasi turut memberikan penghormatan kepada Habibie.

Xanana sebelumnya meminta Kedutaan Besar Timor Leste untuk mengundang semua mahasiswa Timor Leste yang ada di Jakarta dan sekitarnya untuk ikut berziarah ke makam mantan presiden RI itu. Xanana merasa perlu mengajak anak-anak muda Timor Leste untuk memberikan penghormatan karena Habibie berjasa dalam pendirian negara yang berjuluk Bumi Loro Sae itu.

“Mereka datang ke makam untuk memberi penghormatan kepada beliau. Jika bukan karena Pak Habibie, mereka tidak akan merasakan kebebasan yang ada hari ini,” kata dia.


Editor : Ahmad Islamy Jamil