Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Miris! 70.239 Balita Kena ISPA akibat Karhutla, Paru Terancam Rusak
Advertisement . Scroll to see content

Update! 333.470 Kasus ISPA akibat Karhutla, 75.172 Menyerang Balita

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:07:00 WIB
Update! 333.470 Kasus ISPA akibat Karhutla, 75.172 Menyerang Balita
Kabut asap menyelimuti Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Rabu (21/10/2026). (Foto: iNews).
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 75.172 kasus menyerang anak usia 0–5 tahun atau balita.

Berdasarkan data Kemenkes per 21 Oktober 2026, kasus ISPA tersebut tersebar di 68 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak karhutla. Sementara itu, sebanyak 258.298 kasus lainnya tercatat pada kelompok usia di atas lima tahun.

Lonjakan kasus ISPA ini menjadi perhatian di tengah pencemaran udara akibat asap karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Paparan asap dapat memicu gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti balita dan lanjut usia.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, mengatakan pemerintah pusat dan daerah telah menyiapkan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan untuk menangani masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.

"Untuk penyiapan layanan kesehatan, tentunya kita cek bagaimana kesiapan pos layanan kesehatan, seperti di seluruh puskesmas di wilayah terdampak yaitu ada 1.691 puskesmas yang kita siagakan," ujar Suyanti dalam keterangan resmi, Jumat (23/10/2026).

Selain puskesmas, pemerintah menyiapkan 360 rumah sakit rujukan dan 87 laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas) untuk mendukung penanganan dampak kesehatan akibat karhutla.

Pemerintah daerah juga telah menyediakan 491 rumah oksigen di wilayah masing-masing. Kemenkes turut memantau kesiapan tenaga kesehatan, termasuk 18.547 dokter umum serta dokter spesialis mata, paru, telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), serta dermatologi, venereologi, dan estetika (DVE).

Masyarakat yang membutuhkan pertolongan darurat dapat mengakses layanan Public Safety Center (PSC) 119.

Kualitas Udara Memburuk

Selain memantau peningkatan kasus ISPA, Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kualitas udara di wilayah terdampak karhutla. Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada 22 Oktober 2026 pukul 08.40 WIB menunjukkan sejumlah daerah berada dalam kategori hitam atau berbahaya, dengan konsentrasi PM2.5 di atas 300.

Partikel halus PM2.5 dalam asap dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Paparan asap karhutla juga dapat menyebabkan iritasi mata, memperburuk asma dan penyakit paru, serta meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, terutama pada kelompok rentan.

Suyanti mengimbau masyarakat untuk melindungi kelompok rentan dan mengurangi paparan asap, termasuk mencegah asap masuk ke dalam rumah.

"Kami harus lindungi kelompok rentan karena lebih gampang menderita penyakit dan kurangi asap yang masuk ke dalam rumah, termasuk kenali gangguan kesehatan," katanya.

Kemenkes juga meminta masyarakat memantau kualitas udara melalui ISPUnet yang telah terintegrasi dengan aplikasi SATUSEHAT. Warga di wilayah terdampak disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar, serta memperbanyak minum air putih.

Masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami sesak napas atau batuk yang semakin memburuk, terutama jika keluhan terjadi pada balita, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut