Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Tim SAR Perluas Pencarian Jurnalis iNews dan 4 Wartawan di Selat Sunda, Sisir Lewat Laut dan Udara
Advertisement . Scroll to see content

Viral Air Laut Perairan Banten Surut Picu Kekhawatiran Tsunami, Ini Penjelasan Badan Geologi

Senin, 14 September 2026 - 12:34:00 WIB
Viral Air Laut Perairan Banten Surut Picu Kekhawatiran Tsunami, Ini Penjelasan Badan Geologi
Badan Geologi memastikan fenomena air laut surut yang viral di Banten tidak berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. (Foto: Instagram)
Advertisement . Scroll to see content

Salah satu peristiwa yang menjadi catatan adalah tsunami pada Desember 2018 yang berdampak di wilayah pantai barat Banten dan Kalianda, Lampung.

Dia juga mengungkapkan sejarah letusan Krakatau pada 1883 yang memicu tsunami besar di sejumlah wilayah pesisir.

“Sebelumnya, tsunami yang paling besar yang pernah terjadi akibat letusan Gunung Anak Krakatau adalah pada tahun 1883, saat itu namanya adalah Gunung Krakatau. Erupsi pada tanggal 26 Agustus 1883 dan memicu terjadinya tsunami di Teluk Betung setinggi 22 meter, di pantai barat Banten sekitar Carita dan Anyer sekitar 15 meter, bahkan di Tanjung Priok Jakarta tercatat adanya kenaikan air sekitar 1,8 meter,” kata dia.

Meski demikian, Athanasius mengatakan, Badan Geologi belum menemukan indikasi Gunung Anak Krakatau akan mengalami erupsi besar yang menyebabkan sebagian tubuh gunung runtuh dan memicu tsunami. Sejak 2018 hingga saat ini, menurut dia, tidak ditemukan indikasi tersebut.

Athanasius mengimbau masyarakat tetap waspada apabila Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi. Salah satunya dengan tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat letusan.

Masyarakat juga diminta tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya.

“Untuk mengetahui informasi lebih jauh mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun aktivitas gunung berapi lainnya, kita dapat memantau magma Indonesia maupun situs Badan Geologi,” tuturnya.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut