Wali Kota Medan Diduga Mengutip Para Kadis demi Tutupi Biaya Pelesiran Anak Istri ke Jepang

Ilma De Sabrini ยท Kamis, 17 Oktober 2019 - 05:30 WIB
Wali Kota Medan Diduga Mengutip Para Kadis demi Tutupi Biaya Pelesiran Anak Istri ke Jepang

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang (tengah) saat membacakan penetapan tersangka terhadap Wali Kota Medan, Tengku Dzulmi Eldin, di Jakarta, Rabu (16/10/2019). (Foto: iNews.id/Ilma De Sabrini)

JAKARTA, iNews.idWali Kota Medan, Tengku Dzulmi Eldin (TDE), diduga menerima uang haram sebesar Rp580 juta. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan, uang tersebut sedianya digunakan Eldin untuk membayar tagihan perjalanan ke Jepang sebesar Rp800 juta, serta untuk keperluan pribadinya.

Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang menuturkan, uang Rp580 juta itu bersumber dari Kepala Dinas (Kadis) PUPR Kota Medan, Isa Ansyari (IAN). Pemberian uang itu dilakukan dalam beberapa tahap.

“IAN memberikan uang tunai sebesar Rp20 juta setiap bulan pada periode Maret-Juni 2019 (total Rp80 juta). Pada tanggal 18 September 2019, IAN juga memberikan uang senilai Rp50 juta kepada TDE,” kata Saut saat jumpa pers di Kantor KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (16/10/2019) malam.

Pemberian pada tahap tersebut adalah uang suap yang diberikan kepada Eldin setelah sang wali kota memilih dan melantik Isa menjadi Kadis PUPR Kota Medan. Untuk diketahui, Isa diangkat menjadi kadis pada 6 Februari 2019.

Untuk membiayai keperluan pribadinya, Eldin kembali meminta Isa untuk memberikannya uang. Akhirnya, Isa mengirimkan Rp200 juta kepada Eldin melalui Syamsul Fitri Siregar (SFI), selaku kepala Subbagian Protokoler Kota Medan.

“Kadis PUPR mengirim Rp200 juta ke wali kota atas permintaan melalui protokoler untuk keperluan pribadi wali kota,” ucap Saut.

BACA JUGA: Tersangka, Wali Kota Medan Dzulmi Eldin Jadi Kepala Daerah ke-49 Kena OTT KPK

Tidak hanya itu, Eldin juga memiliki tanggungan Rp800 juta-900 juta kepada pihak travel pascaperjalanan dinasnya ke Jepang pada Juli 2019. Ketika itu, ada sejumlah orang yang tidak seharusnya ikut dalam perjalanan dinas Eldin terkait kerja sama sister city di Kota Ichikawa, Jepang.

Diketahui dalam perjalanan dinas itu, Eldin turut membawa istri dan kedua anaknya beserta sejumlah orang lainnya. Biaya mereka tentunya tidak terhitung dalam anggaran APBD.

Untuk menutupi tanggungan biaya travel tersebut Syamsul membuat daftar target kepala-kepala dinas yang akan dimintai dana, termasuk di antaranya adalah para kepala dinas yang ikut berangkat ke Jepang. Bahkan, Isa juga ditargetkan untuk dapat memberikan uang lagi senilai Rp250 juta.

“Pada tanggal 15 Oktober 2019, IAN mentransfer Rp200 juta ke rekening tersebut dan melakukan konfirmasi kepada SFI,” tuturnya.

Kemudian, uang Rp50 juta sisanya diputuskan untuk diambil tunai saja melalui AND selaku staf prtokoler wali kota. AND pun diketahui tim KPK telah membawa uang tersebut.

Akan tetapi yang bersangkutan melarikan diri dan hingga saat ini belum diketahui keberadaannya. KPK pun mengimbau AND menyerahkan diri. “AND kemudian kabur bersama uang sebesar Rp50 juta tersebut dan belum diketahui keberadaannya hingga saat ini,” ujar Saut.


Editor : Ahmad Islamy Jamil