Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : China Luncurkan 3 Mobil Listrik Baru Setiap Hari, CATL Peringatkan Masalah Baterai Massal
Advertisement . Scroll to see content

China Pamer Teknologi Baterai LFP Generasi Terbaru, Produksi Lebih Cepat 7,5 Sel per Menit

Selasa, 08 September 2026 - 13:27:00 WIB
China Pamer Teknologi Baterai LFP Generasi Terbaru, Produksi Lebih Cepat 7,5 Sel per Menit
Kombinasi peningkatan kepadatan energi dan kecepatan produksi hingga 7,5 sel per menit, China terus memperkuat ekosistem baterai kendaraan listrik. (Foto: Dok iNews.id)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - China memamerkan perkembangan terbaru teknologi baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) untuk kendaraan listrik (EV). Selain kepadatan energi sel yang dilaporkan menembus lebih dari 200 Wh/kg, kecepatan produksi sel prismatik otomatis juga meningkat hingga 7,5 sel per menit.

Perkembangan tersebut diungkap dalam World Power Battery Conference (WPBC) 2026 di Yibin, Sichuan. Dua pencapaian itu memperlihatkan perkembangan industri baterai China, baik dari sisi performa sel maupun kemampuan manufaktur.

Akademisi Ouyang Minggao, profesor Universitas Tsinghua sekaligus salah satu tokoh penting dalam program riset kendaraan listrik nasional China, mengungkapkan tolok ukur LFP generasi keempat dengan kepadatan energi di atas 200 Wh/kg.

Teknologi tersebut menarik perhatian karena peningkatan kepadatan energi dilakukan pada kimia LFP tanpa harus beralih ke material katoda dengan kandungan nikel tinggi. LFP sendiri telah menjadi salah satu teknologi baterai dominan dalam pasar kendaraan listrik China.

LFP Kuasai Baterai EV China

Pada paruh pertama 2026, China memasang 335,6 GWh baterai daya. Dari jumlah tersebut, LFP menyumbang 272,0 GWh atau sekitar 81 persen dari total pemasangan baterai daya.

Dominasi LFP tidak terlepas dari sejumlah keunggulannya, termasuk biaya, keamanan, serta daya tahan. Selama beberapa tahun terakhir, peningkatan performa LFP juga banyak didorong oleh optimalisasi desain paket baterai.

Teknologi cell-to-pack (CTP) yang dikembangkan produsen seperti CATL serta Blade Battery generasi kedua BYD memungkinkan baterai menggunakan ruang secara lebih efisien. Material tidak aktif di antara sel dan komponen paket dapat dikurangi sehingga kapasitas baterai dapat ditingkatkan tanpa memperbesar ukuran paket secara signifikan.

Namun, semakin optimal desain paket, ruang peningkatan dari sisi pengemasan juga semakin terbatas. Karena itu, pengembangan sel dengan kepadatan energi lebih tinggi kembali menjadi perhatian.

Kepadatan Energi Tembus 200 Wh/kg

LFP generasi keempat yang dipaparkan di WPBC 2026 dilaporkan mampu melewati angka 200 Wh/kg pada tingkat sel. Pencapaian ini menjadi penting karena kepadatan energi sekitar 200 Wh/kg masih relatif jarang ditemukan pada aplikasi LFP secara luas.

Sebagai pembanding, BYD memiliki lini Blade 2.0 dengan beberapa format sel. Versi Short Blade memiliki rating sekitar 160 Wh/kg, sedangkan Long Blade untuk aplikasi tertentu dapat mencapai hingga 210 Wh/kg pada tingkat sel.

Pengembangan LFP terbaru tersebut juga dikaitkan dengan peningkatan pemadatan material. Kepadatan bubuk LFP yang dipadatkan disebut berada di kisaran 2,65-2,80 gram per cm³, sedangkan kepadatan energi volumetriknya dilaporkan melampaui 430 Wh/L.

Meski demikian, angka tersebut merupakan parameter material dan sel. Nilainya tidak bisa disamakan secara langsung dengan kepadatan energi paket baterai jadi karena masih terdapat sistem pendingin, struktur, koneksi listrik, dan komponen lain yang menambah bobot serta volume.

Pemadatan Elektroda Jadi Tantangan

Peningkatan kepadatan energi LFP tidak hanya berkaitan dengan memasukkan lebih banyak material aktif ke dalam sel. Pemadatan elektroda yang semakin tinggi dapat mengurangi volume pori dan membuat transportasi elektrolit di dalam elektroda menjadi lebih sulit.

Karena itu, formulasi elektroda, distribusi ukuran partikel, jalur konduktif, dan pengendalian proses produksi menjadi semakin penting. Produsen harus menjaga keseimbangan antara kepadatan energi volumetrik dengan kemampuan transportasi ion.

LFP generasi terbaru juga masih berada di bawah capaian baterai ternary berbasis nikel tinggi. Baterai Qilin milik CATL, misalnya, dilaporkan memiliki kepadatan energi sel berbasis nikel tinggi sekitar 285 Wh/kg.

Perbedaan tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan kepadatan energi antara LFP dan baterai nikel tinggi. Namun, kemampuan LFP melewati 200 Wh/kg dapat memperkuat posisinya karena teknologi ini telah memiliki basis produksi dan penggunaan yang sangat besar di China.

Produksi Sel Makin Ngebut

Selain performa baterai, WPBC 2026 juga menyoroti perkembangan pada proses manufaktur. Peralatan penggulungan otomatis untuk sel prismatik dilaporkan mampu mencapai kecepatan 7,5 sel per menit.

Kecepatan tersebut meningkat dari baseline jalur produksi sebesar 4,4 sel per menit. Peningkatan throughput menjadi penting bagi industri baterai karena kapasitas produksi harus terus mengikuti pertumbuhan permintaan kendaraan listrik.

Kemajuan ini menunjukkan industri baterai China tidak hanya mengejar kepadatan energi yang lebih tinggi. Efisiensi dan kecepatan manufaktur juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan skala produksi sel baterai.

Jika teknologi LFP dengan kepadatan energi di atas 200 Wh/kg dapat diterapkan secara konsisten dalam produksi volume tinggi, teknologi tersebut berpotensi meningkatkan kemampuan baterai kendaraan listrik tanpa harus sepenuhnya bergantung pada material katoda kaya nikel.

Kombinasi peningkatan kepadatan energi dan kecepatan produksi hingga 7,5 sel per menit, China terus memperkuat ekosistem baterai kendaraan listrik yang telah menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut