Takata Diwajibkan Bayar Ganti Rugi Rp139 Miliar ke 102 Korban Airbag di AS

Dani M Dahwilani ยท Jumat, 09 Agustus 2019 - 08:35 WIB
Takata Diwajibkan Bayar Ganti Rugi Rp139 Miliar ke 102 Korban Airbag di AS

Produsen airbag, Takata diwajibkan membayar ganti rugi kepada 102 korban sebesar 9,8 juta dolar AS atau sekitar Rp139 miliar. (Foto: Carscoops)

MICHIGAN, iNews.id - Pengadilan Distrik Timur Michigan, Amerika Serikat (AS) mewajibkan Takata membayar ganti rugi kepada korban ledakan airbag (kantung udara). Pembayaran tahap pertama diberikan kepada 102 korban sebesar 9,8 juta dolar AS atau sekitar Rp139 miliar.

Dilansir dari Carscoops, Jumat (9/8/2019), Detroit News melaporkan seorang petugas yang ditunjuk khusus mengawasi dana restitusi menghitung pembayaran yang akan diterima korban. Masing-masing, senilai 643,4 dolar AS kepada pengemudi yang mengajukan klaim cedera yang disebabkan inflator airbag Takata rusak, serta cedera khusus yang diderita. Pembayaran tahap pertama ini berkisar dari 643,4 dolar AS hingga 608.013 dolar AS per orang.

Diketahui, hampir 70 juta kendaraan di seluruh Amerika Serikat (AS) telah ditarik kembali dalam beberapa tahun terakhir karena inflator airbag Takata yang rusak, atau mewakili sekitar 13 persen dari semua kendaraan terdaftar di AS.

Inflator meledak telah dikaitkan dengan 24 insiden kematian di seluruh dunia. Di mana 16 di antaranya terjadi di Amerika Serikat, dan lebih dari 250 orang korban cedera.

Sebagai bagian dari penarikan kembali keselamatan otomotif terbesar dalam sejarah, produsen airbag tersebut mengaku bersalah atas kasus ini dan diharuskan membayar hampir 1 miliar dolar AS dalam hukuman pidana.

Dari denda ini, 125 juta dolar AS akan digunakan untuk korban rluka. Total 850 juta dolar AS untuk produsen mobil guna menutupi biaya penarikan dan penggantian. Sementara sisanya 25 juta dolar AS untuk membayar denda.

Dalam kasus ini, propellant yang digunakan inflator salah, sewaktu-waktu bisa meledak, mengirimkan pecahan peluru logam ke arah pengemudi dan penumpang. Atas masalah tersebut, lebih dari 20 juta kendaraan baru yang dipasang mereka diperkirakan akan ditarik kembali dalam beberapa tahun mendatang.


Editor : Dani Dahwilani