Pahlawan Nasional dari Aceh, Pejuang Tangguh Mampu Bakar Semangat Pasukan
Teuku Umar pernah berpura-pura bekerja sama dengan Belanda. Hal ini merupakan taktik yang beliau gunakan untuk mendapatkan senjata dan uang yang akan dibagikan kepada para pejuang lainnya.
Teuku Umar gugur pada 11 Februari 1899 saat melawan pasukan Belanda yang dipimpin Van Heutsz di Suak Ujong Kalak, Meulaboh. Jenazahnya dimakamkan di Mesjid Kampung Mugo di Hulu Sungai Meulaboh. Untuk mengenang jasa beliau, nama Teuku Umar diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di Indonesia. Ada pula salah satu kapal perang TNI AL yang diberi nama KRI Teuku Umar (385).
Teungku Chik Ditiro Muhammad Saman merupakan salah satu pahlawan nasional dari Aceh selanjutnya. Beliau lahir di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, Pidie, pada 1 Januari 1836.
Teungku Chik Ditiro diberi gelar pahlawan nasional lewat Surat Keputusan (SK) No. 087/TK/1973 pada 6 November 1973. Selain ulama, dia merupakan Panglima besar perang Aceh. Dia menjadi pemimpin perang ketika perlawanan terhadap Belanda mulai menyurut pada tahun 1881.
Teungku Chik Ditiro meninggal pada 1891 karena diracun oleh seorang perempuan Aceh. Racun itu dicampurkan ke makanan yang beliau makan. Dia kemudian dimakamkan di Desa Meureu, Indrapuri.