“Baru 10 menit busnya jalan. Belum lama, pas di jalan turunan,” katanya.
Nuraeni menduga kecelakaan terjadi karena bus mengalami rem blong. Namun saat perjalanan awal tak ada tanda-tanda adanya gangguan di dalam bus. Sopir juga tidak berjalan ugal-ugalan.
“Kayaknya rem blong. Jadi pas di jalan belok-belok gitu busnya oleng. Saya teriak-teriak abang rem bang tolong rem bang, Allahu Akbar. Setelah itu saya tidak ingat lagi, nanti sadar sudah di puskesmas. Tas, HP gak tahu semua ada di mana,” ujarnya.
BACA JUGA: Bus Pariwisata yang Terguling di Ciater Bawa Rombongan Pengajian dari Depok
Sementara itu, Direktur RSUD Subang dr Agus Sofyan mengatakan, rumah sakitnya menerima sebanyak 56 pasien korban kecelakaan bus di Ciater.
“Yang datang ada 56 pasien. Sebanyak 22 luka ringan, 24 masih tahap obeservasi dan delapan meninggal dunia,” katanya.
Mereka merupakan korban kecelakaan bus di turunan Nagrog, Desa Palasari, Kecamatan Ciater, Subang, Sabtu (18/1/2020). Saat ini seluruh identitas korban sudah terdata dan keluarga terus berdatangan ke RSUD Subang.
Editor: Donald Karouw