Terbukti Untung, Kang Emil Paksakan Program Satu Desa Satu Perusahaan
Dia menyebutkan, untuk menambah nilai jual barang pemerintah wajib membantu agar produk yang dihasilkan mampu menembus pasar nasional bahkan internasional. Menurutnya, persoalan warga saat ini terletak pada strategi pemasaran dan masih menggunakan kemasan seadanya. Dampaknya, produk yang dihasilkan warga hanya masuk pasar regional tertentu saja.
"Nanti, pemerintah akan bangun pusat kemasan (packaging) agar produk yang dihasilkan lebih menarik sehingga bisa diekspor. Kemasan ini yang membuat produk lebih menarik. Misalnya jamur merang ini. Kalau dikemas dengan baik bisa diekspor karena jamur menjadi hidangan yang mahal di sejumlah restoran di Eropa," ujarnya.
Sementara, Ketua Asosiasi Petani Lele Pantura Hamani mengatakan, saat ini di desanya ada 63 petani lele mulai dari budidaya pembenihan hingga pembesaran. Mereka cukup menggunakan halaman depan atau belakang rumah untuk menernak lele dengan sistem bioflok (kolam ikan dengan diameter 2 meter).
Menurutnya, para petani budidaya ikan lele saat ini mampu meraih keuntungan Rp1 juta dari satu bioflok dalam waktu 3 bulan. "Saya memiliki 11 bioflok dan keuntungannya lumayan," kata Hamani usai mendampingi Ridwan Kamil melihat budidaya lele di samping rumahnya.
Hamani mengungkapkan, hasil panen sejauh ini dipasarkan ke wilayah Indramayu, Bekasi dan Jakarta. Hanya saja, kata dia, persoalannya adalah terbentur pada modal untuk pengembangan budidaya. "Permintaan banyak, sementara produksinya masih sedikit," ujarnya.
Editor: Achmad Syukron Fadillah