Kendaraan Diadang Petugas di Cikarang, Warga Solo Ini Mudik dengan Jalan Kaki
"Saya lebih enak memakai sandal jepit, pakai sepatu nggak kuat," ujarnya.
Selama jalan kaki melalui jalur pantura, Satrio berupaya untuk tetap puasa. Setiap hari, dirinya menempuh perjalanan sekitar 100 kilometer dengan durasi waktu antara 12-14 jam. Selama perjalanan, medan paling berat adalah jalanan di wilayah Karawang Timur hingga Tegal karena sangat panas. Ketika memasuki Brebes dan Pekalongan cuaca sedikit adem.
Selama berjalan, dia menyempatkan beberapa kali beristirahat untuk mengumpulkan tenaga. Dirinya berhenti berjalan untuk tidur ketika menjelang dini hari. Lokasi istirahat yang dipilih untuk tidur adalah SPBU maupun warung tempat pemberhentian truk.
Ketika perjalanannya sampai Gringsing (Batang), aksi nekatnya mudik jalan kaki diketahui rekan-rekannya yang tergabung dalah wadah Pengemudi Pariwisata Indonesia (Peparindo). Dirinya dimarahi teman-temannya karena tidak ngomong.
"Kalau saya ngomong pasti saya gagal pulang karena akan dibantu oleh teman-teman Peparindo di Jakarta,” ucapnya.
Dari Gringsing, dia lalu dijemput dan dibawa menuju Sekretaris Peparindo Jawa Tengah di Ungaran pada 14 Mei 2020. Sejak itu, dirinya tidak diperbolehkan jalan kaki lagi untuk meneruskan perjalananya hingga Solo.
Setelah diantar menuju Solo, Satrio tidak menuju ke rumahnya namun ke tempat karantina bagi pemudik di Graha Wisata Niaga Solo. Dia masuk ke tempat karantina pada 15 Mei 2020 sekitar pukul 08.00 WIB. Pada awalnya sempat takut juga karena memakai nama karantina. Setelah karantina 14 hari selesai, kini dia ingin pulang ke rumah di Kelurahan Sudiroprajan, Solo.
"Tapi ternyata malah di sini nyaman dan penuh kekeluargaan. Kami di sini benar-benar dihargai, makan enak dan ada hiburan juga," katanya.
Editor: Nani Suherni