Talas Lokal Diolah Jadi PMT Balita, Tim Unsoed Latih Kader Posyandu Desa Senon Cegah Stunting
Talas dipilih sebagai bahan utama karena mudah diperoleh dan relatif murah di wilayah Banyumas dan Purbalingga. Umbi tersebut juga memiliki granula pati yang halus sehingga relatif mudah dicerna.
Selain mengandung energi, talas memiliki kandungan kalsium dan fosfor serta serat pangan dan pati resisten yang dapat mendukung kesehatan saluran cerna.
Meski demikian, tim mengingatkan bahwa talas bukan merupakan sumber protein utama. Karena itu, talas perlu dipadukan dengan sumber protein hewani, seperti ayam, telur, ikan, atau susu.
Aspek keamanan dalam pengolahan talas juga menjadi bagian dari pelatihan. Talas harus dikupas dan dicuci, kemudian direndam dalam air garam sekitar satu jam sebelum dikukus hingga matang. Tahapan tersebut dilakukan untuk membantu menurunkan kadar kalsium oksalat yang dapat menimbulkan rasa gatal.
Tim juga melakukan perhitungan kandungan gizi menu berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI). Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan kandungan gizi antara Kroket Talas dan Bolu Kukus Talas.
Satu buah Kroket Talas mengandung sekitar 140 kilokalori energi dan 4,9 gram protein, dengan PER sekitar 14 persen. Sementara satu potong Bolu Talas mengandung sekitar 244 kilokalori energi dan 2,7 gram protein, dengan PER sekitar 4,4 persen.
Dengan komposisi tersebut, tiga buah Kroket Talas Ayam Sayur diperkirakan menyumbang sekitar 420 kilokalori energi dan 14,7 gram protein. Komposisi tersebut memenuhi kisaran kebutuhan energi dan protein PMT untuk balita usia 24–59 bulan yang menjadi salah satu sasaran intervensi di Posyandu.
Sebaliknya, Bolu Talas memiliki kandungan energi yang cukup, tetapi kandungan proteinnya masih berada di bawah kisaran yang dianjurkan. Menu tersebut lebih tepat digunakan sebagai makanan selingan atau PMT penyuluhan, kecuali dilakukan modifikasi resep, misalnya dengan menambahkan telur dan susu bubuk serta mengurangi penggunaan gula.
Temuan tersebut disampaikan kepada para kader sebagai bagian dari edukasi. Kader didorong untuk tidak hanya mempertimbangkan ketersediaan bahan pangan lokal, rasa, dan tampilan makanan, tetapi juga memperhatikan kandungan energi, protein, serta rasio protein-energi dalam setiap menu PMT.