Tradisi Saparan di Lereng Merbabu, Warga Open House dan Tamu Wajib Makan
Menurutnya, menjamu tamu dalam jumlah besar merupakan bagian dari filosofi Saparan sebagai pesta desa setelah rangkaian kegiatan bersih desa selesai dilaksanakan.
“Kalau Saparan itu kegiatannya yang penting, filosofi awalnya adalah setelah bersih desa kita berpesta desa. Tadi sudah bersih makam, bersih sungai, itu bersih desa. Bersyukur itu mengundang saudara, teman, sahabat untuk berkumpul bersama,” ujar perempuan yang juga Kepala Dinas Sosial Kabupaten Semarang itu.
Menurutnya, tamu yang datang tidak cukup hanya menikmati kudapan. Mereka juga harus menikmati hidangan utama yang telah disiapkan. “Harus makan besar,” katanya.
Selain hidangan utama, terdapat dua makanan yang selalu hadir dalam tradisi Saparan, yakni jadah dan wajik atau jenang. Kedua makanan berbahan dasar ketan tersebut memiliki makna filosofis bagi masyarakat setempat.
Dia menjelaskan, jadah melambangkan perekat antarsesama, sedangkan perpaduan warna putih pada jadah dan warna gelap pada wajik menggambarkan persatuan dalam keberagaman.