Viral Batu Kandung Kemih 2 Kg, Mengapa Kurang Minum dan Menahan Kencing Berakibat Fatal?
Sering menahan buang air kecil membuat urine mengendap lebih lama di kandung kemih. Ini memberikan waktu bagi bakteri untuk berkembang biak (memicu infeksi) dan mempercepat pengendapan batu.
Orang yang masih berusia produktif, terutama pekerja kantoran (kurang bergerak) atau pekerja lapangan yang terpapar cuaca panas namun kurang minum, memiliki risiko berlipat ganda.
Pasien dalam kasus di atas sebenarnya sempat mengeluhkan beberapa gejala selama 2 tahun, yang sayangnya mirip dengan gejala anyang-anyangan biasa. Segera periksakan diri ke Departemen Urologi Rumah Sakit JIH Purwokerto jika Anda atau kerabat mengalami tanda-tanda berikut:
● Rasa nyeri atau tidak nyaman di perut bagian bawah (bawah pusar) atau pinggang
● Rasa sakit atau sensasi terbakar saat buang air kecil (disuria)
● Buang air kecil menjadi lebih sering (anyang-anyangan) atau terasa mendesak
● Urine berwarna keruh, berbau menyengat, atau bahkan bercampur darah (kencing darah)
● Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas akibat infeksi kronis pada tubuh
Kisah tragis pria berusia 32 tahun di atas menjadi alarm keras. Kerusakan ginjal yang dialaminya sebenarnya bisa dicegah total jika batu tersebut dideteksi lebih awal saat ukurannya masih kecil.
Teknologi medis saat ini sudah sangat maju. Di Rumah Sakit “JIH” Purwokerto, tim dokter spesialis urologi kami dapat mendeteksi keberadaan batu saluran kemih dengan cepat, akurat, dan tanpa rasa sakit melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) ginjal dan kandung kemih serta pemeriksaan laboratorium urine. Jika ditemukan sejak dini, penanganannya jauh lebih mudah, bahkan beberapa jenis batu kecil bisa dihancurkan tanpa operasi besar.
Yuk, mulai hari ini cukupi kebutuhan air putih minimal 2 liter per hari, jangan biasakan menahan kencing, dan lakukan pemeriksaan kesehatan berkala. Ginjal yang sehat adalah investasi masa depan Anda.

Jangan tunggu sampai parah. Konsultasikan kesehatan ginjal Anda bersama Tim Dokter Spesialis di Rumah Sakit JIH Purwokerto.
Editor: Rizqa Leony Putri