Kisah Soerjadi Soerjadarma, dari Navigator Belanda, Polisi Jepang hingga Jadi Panglima TNI Pertama dari AU
Dia kemudian ditempatkan di Satuan Angkatan Darat Belanda di Nijmigen, Negeri Belanda sebelum dipindahkan ke Batalion I Infanteri di Magelang sampai November 1936, satu bulan setelahnya. Karena telah menjadi perwira dengan pangkat Letnan Dua, Soerjadarma bisa mendaftar sebagai Calon Kadet Penerbang.
Namun, setelah dua kali mengikuti tes, dia selalu gagal lantaran terserang malaria. Setelah tes ketiga, barulah dia berangkat ke Kalijati untuk mengikuti Sekolah Penerbang.
Perjalanannya tidak mulus menjadi penerbang. Karena diskriminasi yang dilakukan Belanda, setelah lulus pada Juli 1938, Soerjadarma tidak kunjung mendapat brevet penerbang yang seharusnya menjadi haknya usai menyelesaikan pendidikan.
Meskipun teman sekamarnya telah tiga kali mengajukan nama Soerjadarma untuk melakukan check ride, tetap ditolak. Selama itu, dia hanya diperbolehkan untuk mengikuti ujian sebagai navigator.
Soerjadarma kemudian mengikuti pendidikan di Sekolah Pengintai pada Juli 1938. Setahun kemudian, dia pun ditugaskan sebagai navigator Kesatuan Pembom (Vliegtuiggroep) Glenn Martin di Andir, Bandung.