Mahasiswa UMM Sukses Olah Limbah Kulit Kedelai Jadi Abon Bernilai Ekonomi
Mereka pun melatih para ibu-ibu PKK melalui program Kreatifitas Mahasiswa-Pengabdian Masyarakat (PKM-PM). Terhitung mulai Juni hingga Agustus 2021 lalu, ketiganya memberikan pendampingan ke masyarakat.
Sudah 18 kali mereka mendampingi ibu-ibu ini dalam berbagai aktivitas. Para ibu-ibu tersebut diajari cara memanfaatkan kulit ari kedelai hingga menjadi sebuah produk abon. "Kami juga ajarkan cara distribusi produk dan uji kandungan pada lembaga pemerintah," katanya.
Selain materi teknis, ada pula pendampingan mengenai cara memasarkan produk, baik itu online maupun offline. Ibu-ibu Desa Tanjungtani juga diajarkan pembukuan penghitungan, pengeluaran, dan pemasukan. Hal ini dilakukan agar UMKM yang dibangun menjadi ekonomi mandiri desa serta mampu bertahan ke depannya.
Dia menuturkan, pendampingan yang dilakukan berefek positif kepada masyarakat. Para ibu-ibu ini saat bisa memproduksi dan memasarkan secara mandiri produk abon dari limbah kedelai.
"Produk abon dipatok di kisaran Rp15.000-Rp20.000. Menurut saya, ini adalah langkah yang positif karena para warga bisa memanfaatkan kulit ari kedelai yang sebelumnya hanya limbah menjadi produk yang memiliki nilai jual," tuturnya.
Kini program pemberdayaan ketiga mahasiswa ini juga menjadi PKM PM yang lolos pendanaan dan bakal dibiayai oleh Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (DIKTI), Mei lalu.
"Kami berharap terus bekerja sama dan melanjutkan produksi abon, sehingga dapat menciptakan kemandirian ekonomi bagi Desa Tanjungtani, sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat," katanya.
Editor: Ihya Ulumuddin