Tari Remo, Tarian Pembuka Ludruk dan Penyambut Tamu Khas Jawa Timur
Meski begitu, Sandiwara Ludruk dan Tari Remo akhirnya mengalami perubahan dan memiliki karakter setelah bersentuhan dengan realitas politik masa pergerakan. Sandiwara Ludruk kala itu menjadi salah satu seni tradisional sekaligus media kritis dan representasi kondisi politik yang belum stabil. Sementara Tari Remo sebagai pembukanya, memantapkan diri menjadi tarian dengan tema keprajuritan.
Secara busana, kostum yang dikenakan oleh penari Remo terdiri dari kain batik, kebaya, dan sampur yang dikenakan di pundak.
Sementara untuk riasan yang dipakai oleh penari pria biasanya sangat tebal dan akan membuatnya terlihat seperti seorang perempuan.
Tari Remo ini biasa ditampilkan pada malam hari ketika pertunjukan Sandiwara Ludruk akan dimulai. Pertunjukan Tari Remo dimulai sekitar pukul 21.00 dan berlangsung selama satu malam.
Sebagai musik pengiringnya, Tari Remo saat ini diiringi dengan gamelan slendro dan orkes dengan gending-gending dan nyanyian berbahasa Jawa Timur dan Madura. Namun, iringan lengkap yang mengiringi tari ini biasanya adalah perpaduan dari alat musik bonang, gambang, saron, slenthem, gender, siter,, kenong, kethuk, kempul, gong dan seruling.
Secara umum, tari ini sedikitnya memiliki 3 gaya. Tiga gaya yang umumnya ditampilkan tersebut adalah Remo Gaya Munali, Remo Jugag, dan Remo Bolet Gaya Jombang.
Editor: Komaruddin Bagja